Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) yang mengelola terminal nonpetikemas, yakni Pelindo Multi Terminal hingga Oktober 2022 sudah mengoperasikan 12 terminal nonpetikemas yang tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Selain itu, dalam serah terima operasi, PT Pelindo sebagai holding menyerahkan pengelolaan PT Pelabuhan Tanjung Priok dan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. kepada PT Pelindo Multi Terminal. Penyerahan operasi ini dilakukan secara bertahap
Direktur Utama PT Pelindo Multi Terminal Drajat Sulistyo mengatakan, pada masa-masa awal pasca pembentukan perusahaan fokus pada dua hal, yakni standardisasi operasi dan komersial, serta kerja sama dengan TUKS (terminal untuk kepentingan sendiri) yang dimiliki swasta. Dan Hasilnya cukup memuaskan.
“Contohnya di terminal multipurpose di Makassar. Sebelum dikelola Pelindo Multi Terminal / SPMT, produksi di pelabuhan terbesar di Indonesia timur ini rata-rata hanya 1.776 ton per hari. Sampai Agustus lalu, produksinya naik lebih dari dua kali menjadi 3.880 ton,” kata lulusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ini.
Dampak dari peningkatan produktivitas ini adalah kecepatan bongkar-muat barang. Kini, waktu bongkar-muat kapal berukuran 25 ribu ton bisa ditekan sampai maksimal delapan hari, sebelumnya sekitar 14-16 hari. Dengan lama singgah kapal (port stay) yang lebih pendek, Pelindo Multi Terminal bisa menambah jumlah kapal yang dilayani. Bahkan, Drajat meminta timnya untuk meningkatkan produksi sampai 7.000 ton per hari.
Drajat yakin, target sebesar itu tak sulit dicapai sepanjang timnya punya perencanaan yang baik. Basisnya adalah siklus Plan, Do, Check, dan Act. Jika ada yang meleset, tim harus cepat membuat evaluasi dan kemudian mencarikan solusi.
“Pendeknya, kita harus selalu stand by, selalu siap melayani, harus punya catatan, harus selalu membuat evaluasi. Dengan begitu,
Pelindo Multi Terminal selalu bisa membuat perbaikan dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Mantan Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok itu menambahkan, target utama perusahaannya adalah tepat waktu (fixed time), tepat biaya (fixed cost), dan keamanan safety.
Untuk mencapainya, dia mengajarkan timnya untuk melihat suatu persoalan dari kaca mata yang lebih luas. “Orang operasi harus tahu komersial, orang komersial harus tahu keuangan, orang keuangan harus tahu operasi. Pada akhirnya, ujungnya adalah kinerja perusahaan,” tandasnya.
Selain kecepatan operasi, tepat biaya juga sangat penting, baik bagi SPMT, maupun para pelanggan. Sekarang, Pelindo menetapkan tarif di depan, sebelum pekerjaan dimulai.
“Setelah pekerjaan selesai, tak ada lagi biaya plus, plus, plus. Semua serba pasti. Pelanggan senang karena mereka bisa menghitung ongkos yang harus dikeluarkan, tanpa khawatir akan ada biaya tambahan,” kata Drajat. (RO/E-1)
Hadirnya hunian baru ini diharapkan mampu memotivasi personel Polres Pelabuhan Tanjung Priok untuk terus meningkatkan dedikasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan layanan pengaduan pajak dan bea cukai langsung ke nomornya untuk merespons keluhan pengusaha soal tagihan di pelabuhan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan sidak ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk memeriksa kontainer pakan dan vitamin ternak asal Tiongkok
BEA Cukai Tanjung Priok bersama TNI Angkatan Laut gagalkan pemasukan peti kemas bermuatan ballpress (pakaian dan tas bekas).
Pembangunan pelabuhan KCN masih berlangsung secara bertahap dan ditargetkan rampung pada 2026.
Kejadian kemacetan di Tanjung Priok ini terjadi pada Rabu hingga Kamis (16-17 April 2025) dan dianggap sebagai indikasi adanya masalah besar dalam sistem logistik nasional Indonesia.
Seluruh sertifikat kesehatan awak pesawat tersebut masih berlaku pada saat kejadian.
Ahmad Safei meminta Kementerian Perhubungan bersama Basarnas, TNI, dan Polri untuk segera melakukan pencarian korban hilangnya pesawat ATR 42-500
Pemerintah telah membuka Crisis Center di Bandara Sultan Hasanuddin untuk memberikan pendampingan kepada keluarga.
Pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar telah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi.
Keputusan tersebut diambil setelah terjadinya kecelakaan maut bus di Tol Krapyak, Semarang, yang menewaskan 16 penumpang pada Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved