Senin 05 September 2022, 11:58 WIB

Subsidi BBM Dinilai Lebih Tepat Diberikan Kepada Orang untuk Cegah Moral Hazard

mediaindonesia.com | Ekonomi
Subsidi BBM Dinilai Lebih Tepat Diberikan Kepada Orang untuk Cegah Moral Hazard

dok.ant
Warga sedang mengantri BBM subsidi di salah satu SBPU di Jakarta.

 

EKONOM senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan lebih tepat diberikan kepada orang yang membutuhkan, ketimbang kepada barang untuk mencegah terjadinya moral hazard (risiko moral).

"Ketika subsidi BBM diberikan dan tiidak ada batas dan penggunanya, pada akhirnya terjadilah moral hazard yang menyebabkan kelangkaan di mana-mana," katanya dalam Rilis Survei Nasional LSI: "Kondisi Ekonomi dan Peta Politik Menjelang 2024" yang dikutip dari LKBN Antara.

Selain tidak adanya pengawasan dari pemerintah, Pertamina sendiri pun tidak bisa mengawasi konsumsi BBM bersubsidi. Hal itulah yang kemudian menyebabkan jatah BBM bersubsidi yang tanya hanya 23 juta kiloliter membengkak menjadi 29 juta kilo liter dan membebani anggaran negara.

"Makanya sebaiknya subsidi memang ke orang, karena artinya di pasar jauh lebih sama harganya. Seperti sekarang, sejak kenaikan tanggal 3 September 2022, harga di SPBU tidak ada bedanya sehingga orang tidak antre di salah satu SPBU saja yang ada subsidinya karena disparitasnya makin kecil," katanya.

Menurut Aviliani, kebijakan memberikan subsidi ke barang tidak boleh lagi dilakukan di masa mendatang.

"Ini pengalaman yang menurut saya dari beberapa Presiden, pengalaman yang sama itu dilakukan. Nah ini tidak boleh dilakukan lagi, sebaiknya memang ke orang saja," katanya.

Dalam hal ini, Aviliani mengapresiasi langkah pemerintah yang telah lebih dulu memberikan bantuan langsung tunai (BLT) untuk pengalihan subsidi BBM sebelum mengumumkan kenaikan harga BBM.

"Pemerintah sudah benar kemarin, kasih BLT dulu, baru kemudian harga naik. Oleh karena itu, perlu kecepatan dalam menyalurkan BLT agar masyarakat belum mengalami gap (selisih) kenaikan harga (akibat kenaikan BBM)," katanya.

Aviliani memahami piliihan pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi untuk bisa menekan pembengkakan APBN. Ia menyebut pembengkakan APBN akan sangat berbahaya jika dibiarkan karena pemerintah nantinya harus menambah defisit anggaran.

Situs Investopedia menyebut angka defisit menunjukkan kesehatan keuangan suatu negara. Semakin besar angkanya, berarti semakin tinggi pula utangnya.

Pilihan untuk menaikkan harga BBM juga dilakukan atas dasar masih banyak penggunaan BBM bersubsidi yang tidak tepat sasaran. Pemerintah menyebut sekitar 80 persen BBM bersubsidi digunakan oleh industri dan rumah tangga mampu.

"Banyak yang menggunakan (BBM bersubsidi) karena tidak ada pembatasan siapa yang boleh dan siapa yang beli dan siapa yang tidak. Pak Jokowi melihat ini layak untuk disesuaikan. Makanya, lebih bagus BLT diberikan lebih tepat atau langsung kepada orang," katanya. (Ant/OL-13)

Baca Juga

aNTARA

Implementasi UU PDP Perlu Dukungan Literasi Digital

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 11:14 WIB
Pengesahan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) merupakan langkah awal yang baik untuk memastikan perlindungan data pribadi di...
Dok.Samanea

Samanea Group Gandeng WOOK Garap Pasar E-Commerce

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 11:00 WIB
Samanea Group menjalin kerja sama strategis dengan WOOK (Wook Global Technology) perusahaan e-commerce terbesar asal Tiongkok di Asia...
DOK Pribadi.

Wamenaker Dorong Penempatan PMI ke Saudi di Sektor Formal

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 01 Oktober 2022, 09:36 WIB
Penempatan PMI pada sektor formal akan menghapus anggapan bahwa pekerja Indonesia hanya andal pada sektor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya