Jumat 19 Agustus 2022, 18:00 WIB

Stok Beras dan Jagung Melimpah, Bulog: Ketahanan Pangan Aman

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Stok Beras dan Jagung Melimpah, Bulog: Ketahanan Pangan Aman

Antara
Pekerja menggotong karung berisi beras di gudang Perum Bulog wilayah Banten.

 

PERUM Bulog menyatakan kondisi ketahanan pangan Indonesia cukup aman. Hal itu tercermin dari kemampuan produksi bahan pangan utama, seperti beras dan jagung, yang baik.

"Untuk beras stoknya sangat kuat, tidak perlu khawatir. Bahkan, kita berpeluang melakukan ekspor. Untuk jagung, ini sangat berpeluang untuk diekspor, karena surplus sampai 3 juta ton," jelas Kepala Divisi Pengadaan Komoditi Perum Bulog Budi Cahyanto, Jumat (19/8).

Adapun stok beras di sejumlah gudang Bulog saat ini berkisar 1,1 juta ton. Jumlah itu sesuai dengan amanat yang diberikan pemerintah, rekomendasi Food and Agriculture Organization (FAO) dan studi kecukupan stok beras oleh Universitas Gadjah Mada.

Baca juga: Presiden: Gunakan Dana Tidak Terduga untuk Tangani Inflasi

Indonesia merupakan negara terbesar kedua sebagai produsen beras, dengan posisi di bawah Tiongkok. Kapasitas produksi beras nasional dapat mencapai 35 juta ton per tahun. Itu melampaui kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31-32 juta ton per tahun.

Surplus beras itu sedianya dapat diarahkan untuk ekspor ke negara yang membutuhkan pasokan beras. "Orientasi beras ekspor itu beras yang memang khusus ada di Indonesia. Itu tantangan ke depan, bagaimana Bulog membuka peluang ekspor," pungkas Budi.

Baca juga: Penghargaan IRRI Bukti Lumbung Beras Indonesia Aman

Menyoroti komoditas jagung, Indonesia secara rerata mampu berproduksi hingga 24,27 juta ton pada 2014-2018. Bahkan, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa Indonesia berhasil mengurangi impor jagung dari 3,5 juta ton menjadi 800 ribu ton.

Komoditas jagung sebetulnya belum menjadi bahan pangan utama di Indonesia. Sebab, jagung lebih banyak digunakan sebagai pakan hewan ternak. Doni menyebut salah satu kendala di sektor jagung ialah kurangnya corn drying center (CDC).

"Kita kekurangan dryer. Jagung ini ketika sudah dipanen harus dikeringkan, supaya tidak terkena jamur. Bulog terus mempersiapkan diri untuk menyediakan dryer," sambungnya.(OL-11)
 

 

Baca Juga

Dok. Onduline

Tingkatkan TKDN, Produsen Atap Bitumen Asal Prancis Ini Teken Investasi di Kawasan Industri PIER Pasuruan

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Oktober 2022, 23:23 WIB
PT Onduline Manufaktur Indonesia melakukan investasi perdana di Indonesia untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait  TKDN...
dok.ist

Kementan Pacu Petani Milenial Mahir Susun Proposal Bisnis

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Oktober 2022, 23:20 WIB
KEMENTAN melalui Badan Penyuluhan dan  Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian memiliki komitmen serius dalam hal pengembangan SDM...
Antara

Serikat Pekerja BUMN: Pengelola TMII Tak Bayar Pesangon Sejak Maret 2022

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Oktober 2022, 23:19 WIB
Menurut dia, karyawan menuntut pesangon yang rata-rata sudah bekerja selama 25 tahun lebih tapi tidak kunjung...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya