Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah berpendapat yang menjadi pertimbangan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku acuan, bukan resesi ekonomi di Amerika Serikat (AS), melainkan kenaikan suku bunga acuan The Fed.
"Saat ini yang menjadi pertimbangan bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan ialah kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed," ujar Piter saat dihubungi, Senin (1/8).
Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS dapat berdampak pada selisih yield antara instrumen surat berharga di Indonesia dan Negeri Paman Sam. Hal tersebut juga berpengaruh pada keluarnya modal asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca juga: BI Masih Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,50%
"Semakin tinggi suku bunga The Fed, semakin kecil juga selisih yield antara instrumen surat berharga di Indonesia dan Amerika. Sehingga, ada potensi keluarnya modal asing dari Indonesia dan menekan rupiah," imbuhnya.
Piter meyakini bahwa resesi ekonomi di AS tidak diikuti akan dengan kenaikan suku bunga acuan The Fed. Sehingga, BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan atau BI-7DRR.
Baca juga: Akademisi Minta Pemerintah Segera Antisipasi Dampak Resesi AS
"Sepanjang resesi di AS tidak diikuti kembali oleh kenaikan suku bunga acuan The Fed, BI tidak perlu menaikkan suku bunga acuan," pungkasnya.
Lebih lanjut, dia memandang resesi di AS memungkinkan untuk mendorong The Fed tidak menaikkan suku bunga acuannya. Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 2,25-2,5%.
"Sesungguhnya, resesi ini dapat mendorong The Fed untuk segera menghentikan kenaikan suku bunga, atau bahkan bisa kembali menurunkan suku bunga. Kalau ini terjadi, BI dapat terus bertahan dengan suku bunga rendah," tutur Piter.(OL-11)
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved