Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA Penyelidikan Masyarakat dan Ekonomi (LPEM) Universitas Indonesia menilai Bank Indonesia harus menjaga suku bunga acuan di level 3,50%. Kebijakan makroprudensial dan akomodatif juga disarankan untuk terus dilanjutkan.
"Stance BI masih harus behind the curve untuk saat ini dengan mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50% dan melanjutkan langkah-langkah makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Ekonom Makroekonomi dan pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky melalui keterangannya, Kamis (23/6).
LPEM, lanjutnya, meminta agar BI tidak terburu-buru menaikkan suku bunga kebijakan. Sebab pengetatan moneter saat ini akan mengganggu kemajuan pemulihan ekonomi.
Waktu yang tepat bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan adalah setelah tingkat inflasi meningkat secara fundamental dan substansial. "Terlepas dari meningkatnya tekanan inflasi global yang terjadi di sebagian besar negara akibat melonjaknya harga pangan dan energi global serta gangguan rantai pasokan, inflasi domestik masih terkendali dalam kisaran target BI sebesar 2% hingga 4%," jelas Riefky.
Risiko inflasi domestik masih didorong oleh inflasi dari sisi penawaran akibat kenaikan harga komoditas dan pangan global. Hal itu tergambar dari inflasi berdasarkan Indeks Harga Produsen (PPI) yang telah berada di atas inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI) sejak 2020.
"Kondisi tersebut menunjukkan cepat atau lambat, risiko inflasi sisi penawaran akan diteruskan ke inflasi sisi permintaan, mengingat produsen sekarang tengah menghadapi kenaikan harga input," terang Riefky.
Namun, pemerintah telah memutuskan untuk menyuntikkan subsidi dan kompensasi energi tambahan guna menahan laju inflasi menggunakan APBN 2022. Dus, kenaikan harga BBM bersubsidi, LPG, dan listrik dapat ditunda tahun ini.
Terlepas dari itu, lanjut Riefky, BI perlu mewaspadai pengetatan moneter The Fed dan negara-negara lain, yang dapat mengakibatkan arus modal keluar dan depresiasi rupiah. Data terkini menunjukkan rupiah melemah ke kisaran Rp14.800 pada pertengahan Juni dari sekitar Rp14.500 pada bulan sebelumnya.
"Meski demikian, rupiah hanya terdepresiasi sebesar 4,1% (ytd), lebih rendah dari depresiasi ringgit Malaysia (5,7%), peso Filipina (6,1%), dan baht Thailand (6,4%)," jelas Riefky.
Nilai tukar yang relatif terkendali didukung oleh cadangan devisa yang tinggi. Meski sedikit menurun dari US$135,7 miliar pada April menjadi US$135,6 miliar pada Mei, cadangan devisa masih cukup untuk menahan guncangan karena cadangan tersebut setara dengan 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
"Cadangan devisa juga masih tercatat lebih tinggi dari standar kecukupan cadangan internasional sekitar 3 bulan impor," kata Riefky.
Sementara itu, dalam rangka normalisasi likuiditas, BI secara bertahap memperketat Rasio Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan yang berlaku sejak 1 Juni lalu, guna menarik kelebihan likuiditas tanpa mengganggu proses pemulihan. (OL-13)
Baca Juga: Dolar AS Melemah Diterpa Kekhawatiran Resesi AS
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Ekonom Hossiana Evalisa Situmorang menyebut keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen agar transmisi suku bunga lebih cepat
DEWAN Gubernur Bank Indonesia menyebut masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Oktober 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%.
Insentif diberikan kepada bank atas komitmennya dalam menyalurkan kredit/pembiayaan kepada sektor tertentu (lending channel).
PENURUNAN suku bunga kredit perbankan tercatat masih berjalan lambat setelah suku bunga acuan (BI-Rate) dipangkas sebesar 100 basis poin (bps) sejak September 2024.
SWID catat lonjakan penjualan 270% di Q2 2025, dorong stabilitas baru. Fokus pada recurring income & diversifikasi perkuat fondasi jangka panjang.
Rencana kebijakan anyar mengenai DHE SDA telah dikaji dan dibahas dengan matang oleh pemerintah bersama Bank Indonesia.
BUNGA kredit perbankan semestinya tak mengacu pada tingkat bunga acuan Bank Indonesia maupun bunga simpanan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 6,00%, Waketum Kadin Bidang Energi Minyak dan Gas Bobby Gafur Umar mengatakan hal tersebut sudah diperkirakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved