Kamis 02 Juni 2022, 19:53 WIB

Frekuensi Penerbangan Berkurang Jadi Biang Kerok Tiket Pesawat Mahal

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Frekuensi Penerbangan Berkurang Jadi Biang Kerok Tiket Pesawat Mahal

MI/Palce Amalo
Penumpang turun dari pesawatterbang setelah mendarat di bandara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur

 

SEJAK libur Lebaran pada bulan lalu hingga hari ini, harga tiket pesawat rute internasional dan domestik masih tinggi. Tiket dari Jakarta-Singapura pulang pergi misalnya, dipatok hingga kisaran Rp10 juta. 

Ketua Umum DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengaitkan hal tersebut dengan pengurangan frekuensi penerbangan dari maskapai dalam negeri.

"Dulu dalam sehari, Garuda siapkan enam penerbangan dari Jakarta-Singapura, sekarang hanya sekali sehari," ujarnya dalam tayangan video yang dikutip, Kamis (2/6).

Rute Jakarta-Bangkok juga demikian, mengalami pengurangan frekuensi penerbangan, menurut Pauline. Sebelumnya, setiap hari ada penerbangan ke Bangkok, kini hanya seminggu dua kali penerbangan.

Akibat pengurangan frekuensi itu tentu berdampak pada keterbatasan kursi penumpang. Sehingga, membuat tiket pesawat melonjak naik signifikan karena diburu masyarakat. 

"Tidak cuma rute pendek aja, tapi rute panjang juga terdampak pada kenaikan harga tiket. Ini karena kekurangan armada dan kekurangan frekuensi penerbangan," jelasnya.

Baca juga : Transaksi BI-Fast Capai Rp320,6 Triliun Sampai Dengan Mei 2022

Sementara itu, Pengamat penerbangan Arista Atmadjati menuturkan, kenaikan harga tiket pesawat tidak lepas dari meroketnya harga avtur, yang merupakan bahan bakar pesawat. 

Berdasarkan data Pertamina per 15-31 Maret 2022, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng mencapai US$87,50 sen per liter untuk penerbangan internasional. Sedangkan, untuk kategori domestic flight into plane/not into plane Rp13.677,20 per liter.

"Hampir enam bulan ini terjadi kenaikan minyak yang berdampak pada avtur. Apalagi dipicu geopolitik Rusia-Ukraina itu juga menambah runyam," ucapnya. 

Dihubungi terpisah, Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai wajar soal melonjaknya harga tiket pesawat karena ada permintaan yang tinggi, khususnya saat musim libur pada Mei lalu. 

Di satu sisi, pemerintah dianggap tidak bisa berbuat banyak atas kenaikan tiket pesawat tersebut. Pasalnya, untuk tarif yang dipasang dari maskapai asing, pemerintah tidak berwenang mengatur pemberlakuan tarif batas atas dan bawah.

"Apakah pemerintah butuh intervensi? Tidak perlu. Untuk domestik, harga masih ketahan dengan aturan tarif batas atas. Kalau internasional memang tidak ada aturan pembatasannya," pungkasnya. (OL-7)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Arnas Padda

Rayakan HUT Ke-60, STP AUP Gelar Reuni Akbar

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 12:29 WIB
“Lulusan yang telah dihasilkan oleh AUP, kalau kita lihat proporsinya yang bisa bekerja di Industri sangat besar. Sudah 12.080 alumni...
Dok. DPR RI

Pengelolaan BUMN Jangan Hanya Berdasarkan Kompetensi, Tapi Juga Aspek Pencegahan Moral Hazard

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 09:54 WIB
pengelolaan BUMN pelat merah seperti PT Garuda Indonesia, Tbk tak cukup hanya bermodal kompetensi, tetapi juga harus bisa mencegah moral...
Dok. DPR RI

Komisi IX Minta Kejelasan Penyajian Data Tenaga Kerja Asing di Daerah

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 02 Oktober 2022, 09:47 WIB
Kejelasan data itu penting sebagai bagian dari pengawasan dan juga untuk evaluasi bersama terkait dengan berbagai macam keluhan yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya