Rabu 13 April 2022, 13:59 WIB

Produksi Minyak Rusia Merosot, Harga Minyak Dunia Kembali Melambung 

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Produksi Minyak Rusia Merosot, Harga Minyak Dunia Kembali Melambung 

Kirill KUDRYAVTSEV / AFP
Logo terpampang di Gedung Pusat Rosneft, produsen minyak Rusia, yang berada di Kota Moskow, Rusia.

 

HARGA minyak kembali melambung di atas level US$100 per barel dipicu penurunan produksi minyak Rusia serta sinyal kembali memanasnya konflik Ukraina.

Meski demikian, proyeksi bernada negatif dari OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) dan data pasokan minyak AS membatasi pergerakan harga lebih lanjut.

Produksi minyak Rusia dilaporkan turun menjadi 9,76 juta bph pada 11 April, yang sekaligus merupakan level terendah sejak Juli 2020 yang berada pada kisaran 9.37 juta bph.

Secara rata-rata produksi pada periode 1 - 11 April mencapai 10,32 juta bph atau turun lebih dari 6% dibanding periode yang sama bulan Maret di level 11,01 juta bph.

Produksi Rosneft, produsen minyak terbesar Rusia, mencatat penurunan produksi terbesar pada 1-11 April, yang turun menjadi 2,87 juta bph dari 3,35 juta bph pada Maret.

"Kedua berita tersebut menguatkan pernyataan dari Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pekan lalu yang mengatakan produksi minyak Rusia berpotensi turun 4% - 5% pada bulan April," kata Research and Development ICDX, Girta Yoga, Rabu (13/4).

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun 4 Persen

Turut mendukung pergerakan harga minyak lebih lanjut, eskalasi peningkatan tensi konflik Ukraina kian memuncak setelah Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa mengatakan bahwa pembicaraan damai dengan Ukraina menemui jalan buntu.

Putin juga mengisyaratkan rencana serangan dalam tujuh minggu. Di hari yang sama, Presiden AS Joe Biden diperkirakan akan segera mengumumkan paling lambat pada hari Rabu terkait dengan rencana bantuan militer senilai US$750 juta untuk Ukraina.

Sementara itu, dalam Laporan Pasar Minyak Bulanan yang dirilis hari Selasa, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2022 sebesar 480,000 bph menjadi 3.67 juta bph.

Pemangkasan tersebut dilakukan setelah OPEC merevisi angka perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 dari 4,2% menjadi 3,9%, yang dipicu oleh konflik Ukraina serta penguncian kembali di Tiongkok akibat Covid-19.

Dari sisi pasokan dilaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS untuk pekan yang berakhir 8 April melonjak naik sebesar 7.76 juta barel, yang sekaligus kenaikan terbesar yang terlihat sejak awal Maret tahun lalu, ungkap data grup industri American Petroleum Institute (API).

Meski demikian, stok bensin dilaporkan turun sebesar 5,05 juta barel. Untuk angka resmi dari pemerintah akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA).

"Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$95 per barel," kata Girta. (Try/OL-09)

Baca Juga

Antara/Asep Fathulrahman.

Inflasi Tahunan Melejit, BI belum Naikkan Suku Bunga Acuan

👤Despian Nurhidayat 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:49 WIB
Secara tahunan, inflasi komponen inti tercatat mencapai 2,63% dan dari Januari-Juni 2022 mencapai...
Antara/Asep Fathulrahman.

Inflasi Tahunan Juni Lampaui Target 4%, BPS: Perlu Waspada

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:41 WIB
Penyebab lonjakan inflasi karena cuaca esktrem yaitu hujan masih turun sepanjang Juni kemarin dan berdampak pada wilayah sentra produksi...
Antara/M Risyal Hidayat.

Telan Biaya Besar, Pembangunan Pelabuhan Hijau Butuh Komitmen Serius

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 01 Juli 2022, 14:30 WIB
Penanaman pohon di pelabuhan lebih sulit terutama pelabuhan yang kawasannya berdiri di atas tanah hasil...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya