Kamis 20 Januari 2022, 11:04 WIB

AS Berupaya Kendalikan Covid-19 untuk Mengatasi Inflasi

Fetry Wuryasti | Ekonomi
AS Berupaya Kendalikan Covid-19 untuk Mengatasi Inflasi

AFP
Ilustrasi

 

Presiden AS Joe Biden mengomentari bahwa inflasi merupakan tugas dari The Fed untuk mengendalikan laju inflasi yang merupakan tercepat dalam 40 tahun terakhir. Oleh karena itu, Biden mendukung The Fed untuk mengurangi stimulus moneter.

Biden mengatakan bahwa pekerjaan penting bagi The Fed adalah memastikan bahwa kenaikan inflasi tidak sampai mengakar begitu lama.

Mengingat kekuatan pemulihan dalam perekonomian dan laju inflasi beberapa bulan terakhir. Biden ingin Gubernur Bank Sentral AS The Fed Jerome Powell, mengindikasikan untuk mengkalibrasi ulang kebijakan moneternya agar sesuai dengan keadaan saat ini.

"Inflasi sebagai Informasi telah mencapai 7% pada Desember kemarin. Kenaikan biaya hidup sebagian besar dipicu oleh gangguan pasokan karena efek pandemi dan meningkatnya permintaan barang. Alhasil, inflasi menjadi lebih tahan lama dalam posisi tinggi, daripada yang bisa diantisipasi oleh pemerintah AS dan The Fed," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (20/1).

The Fed sekarang secara bertahap akan mulai mengurangi dan menghentikan pembelian obligasi mereka hingga bulan Maret, dan tidak menutup kemungkinan The Fed pada bulan Maret akan menaikan tingkat suku bunga.

Tim ekonomi Joe Biden melihat bahwa inflasi akan mulai turun secara perlahan pada akhir tahun. Namun, inflasi akan menekan perekonomian karena pembukaan pemulihan ekonomi. Sebab inflasi memiliki keterikatan dengan rantai pasok. Pemerintah AS menyalahkan kenaikan inflasi akibat adanya persaingan di dalam beberapa industri.

Untuk mengatasi inflasi, Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan bahwa mengendalikan Covid-19 merupakan salah satu kunci untuk meredakan inflasi.

Yellen dan penasihat ekonomi White House, mengatakan berbagai hal mengenai inflasi dan risiko politik terhadap Biden. Dia juga yakin bahwa inflasi akan turun pada paruh kedua tahun 2022, ketika pasokan tenaga kerja dalam keadaan normal begitupun dengan permintaan.

"Namun kita tidak bisa pungkiri, bahwa kenaikan inflasi AS juga mengganjal stimulus senilai US$1,75 triliun untuk mendanai investasi jangka panjang. Beberapa politikus mengatakan apabila stimulus dikeluarkan, maka inflasi akan semakin naik. Meskipun kami yakin, apabila stimulus sudah dirasa cukup, maka berhenti merupakan saat yang tepat. Pemerintah AS sendiri meyakini bahwa stimulus tersebut akan mendapatkan suara untuk di loloskan dan dikeluarkan," kata Nico. (OL-12)

 

Baca Juga

Dok.Betolar

Perusahaan Finlandia Siap Pasok Beton Rendah Karbon Geoprime untuk Pembangunan Ibu Kota Baru

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:33 WIB
Perusahaan teknologi material Finlandia, Betolar, telah mengembangkan solusi Geoprime untuk produksi beton yang tahan lama, berkelanjutan,...
Antara

Pakai Produk Lokal Upaya Bangun Kemandirian Bangsa

👤Siti Yona Hukmana 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:18 WIB
Menurut Lestari, target menghubungkan sektor UMKM dengan market place agar bisa memasarkan produknya secara...
DOK BEA CUKAI

Bea Cukai Gagalkan Peredaran Ratusan Ribu Batang Rokok Ilegal di Tiga Daerah

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 24 Mei 2022, 16:02 WIB
Pengawasan kali ini dilakukan oleh Bea Cukai Gresik, Bea Cukai Pantoloan, dan Bea Cukai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya