Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL survei permintaan pembiayaan Bank Indonesia pada Desember 2021 mengindikasikan penambahan pembiayaan melalui utang atau kredit oleh rumah tangga masih terbatas.
Proporsi responden rumah tangga yang menyatakan melakukan penambahan Desember 2021 tercatat sebanyak 7,2% dari total responden, tidak jauh berbeda dari bulan sebelumnya di 7,4%.
Sementara itu, responden rumah tangga yang menyatakan tidak melakukan penambahan pembiayaan terpantau meningkat, tercatat sebesar 92,8% dari total responden
Dari sisi sumber pembiayaan, sumber utara permintaan pembiayaan pada Desember 2021 berasal dari bank umum (52,6%) lebih tinggi dari bulan sebelumnya 38,9%.
Sumber pembiayaan lain yang menjadi preferensi responden rumah tangga yaitu koperasi (16,9%), leasing (11,9%), teman/kerabat (8,7%).
Ditinjau dari jenis pembiayaan, Kredit Multi Guna (KMG) merupakan jenis produk banyak paling banyak diajukan pada Desember 2021 dengan pangsa sebesar 48,7%, dari total pengajuan pembiayaan baru.
Kemudian menyusul Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) 19,1%, dan kredit peralatan rumah tangga 12,9%.
"Pada Desember 2021, permintaan KPR, kredit peralatan rumah tangga dan kartu kredit terpantau menurun. Sementara pengajuan baru untuk kredit KKB dan KMG meningkat," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Rabu (19/1)..
Menurut tingkat pengeluaran responden, pengajuan pembiayaan pada Desember 2021 terutama diajukan oleh rumah tangga dengan tingkat pengeluaran Rp1-3 juta per bulan yaitu sebesar 48,0% dari total pengajuan, terpantau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, pengajuan pembiayaan terpantau sedikit menurun dari kelompok rumah tangga dengan pengeluaran Rp3-5 juta dan > Rp5 juta, masing-masing tercatat sebesar 38,1% dan 13,8%.
Pada Desember 2021, responden menyatakan bahwa aspek penghambat utama dalam pengajuan pembiayaan adalah tingkat suku bunga (pangsa 28,5% jawaban responden).
Faktor lainnya yang cukup berpengaruh menurut responden rumah tangga antara lain persetujuan dari lembaga peminjam (pangsa 17,1%) dan administrasi (pangsa 12,9%).
Masih Didominasi Kredit Multi Guna
Sebanyak 5,4% dari responden yang tidak melakukan penambahan permintaan pembiayaan pada Desember 2021 memiliki rencana untuk mengajukan penambahan pembiayaan pada waktu yang akan datang.
Besar responden yang memiliki rencana pembiayaan ke depan tersebut cenderung stagnan dibandingkan bulan November 2021 sebesar 5,6%.
Dirinci lebih lanjut, sebanyak 1,0% dari total responden yang disurvei pada Desember 2021 berencana menambah pembiayaan pada 3 bulan mendatang, sementara 1,6% lainnya merencanakan pengajuan pada 6 bulan mendatang.
Kedua rencana pengajuan tersebut relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Preferensi sumber pembiayaan masih dari bank umum (60,1%), koperasi (14,9%, leasing (10,5%) dan kerabat (5,2%).
Dirinci lebih detail, kebutuhan pembiayaan untuk periode 3 bulan mendatang masih didominasi oleh KMG (pangsa 78,6%), lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya (pangsa 55,3%).
Sementara itu, kebutuhan terhadap KPR, KKB, kredit peralatan rumah tangga, dan kartu kredit pada 3 bulan mendatang terpantau menurun.
Pada 6 bulan mendatang, mayoritas kebutuhan pembiayaan adalah KMG (pangsa 65,3%), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya (pangsa 61,8%), diikuti dengan KKB (pangsa 18,1%) yang juga terpantau meningkat.
Demikian juga pada kredit peralatan rumah tangga di masa mendatang (pangsa 2,8%) yang terpantau lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, kebutuhan terhadap KPR dan kartu kredit diprakirakan menurun pada 6 bulan mendatang. (Try/OL-09)
Data survei juga mengungkap fakta menarik bahwa penolakan ini tidak terkonsentrasi pada satu kelompok demografi atau politik tertentu
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, menyarankan agar pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) demi melindungi konsumen akhir.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juli 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan nominal di bawah Rp100 juta hanya mencapai 4,76% (yoy).
Hasil survei nasional ungkap tantangan dan rumuskan arah kebijakan baru.
Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga, bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan.
Berdasarkan survei, mayoritas masyarakat puas dengan kinerja Polri dan berharap dapat menjadi simbol supremasi sipil.
Unit Layanan Modal Mikro (Ulamm) milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM) merupakan layanan pembiayaan yang dirancang khusus untuk membantu pelaku usaha mikro dan kecil.
LPDB Koperasi kembali menegaskan dedikasinya dalam mendukung pemenuhan hak-hak fundamental masyarakat melalui penyaluran pinjaman maupun pembiayaan dana bergulir bagi koperasi
SURVEI Segara Research Institute menunjukkan mayoritas peminjam di Indonesia lebih mengutamakan kecepatan pencairan dana dibandingkan besaran suku bunga dalam memilih sumber pembiayaan.
Akses pembiayaan bagi jutaan masyarakat unbanked dan underbanked yang selama ini belum terlayani optimal oleh sektor perbankan formal makin diperhatikan.
MECA 2025 diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap brand yang mampu menampilkan terobosan pemasaran serta relevan dengan kebutuhan zaman.
Indonesia terus memajukan infrastruktur berkelanjutan melalui model pembiayaan dengan menggabungkan partisipasi pemerintah pusat, daerah, dan swasta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved