Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Survei: Membedah Kesenjangan Persiapan Pensiun di Indonesia

Basuki Eka Purnama
13/2/2026 21:23
Survei: Membedah Kesenjangan Persiapan Pensiun di Indonesia
Ilustrasi(Freepik)

INDONESIA, saat ini, tengah menghadapi pergeseran demografi yang signifikan dengan lonjakan jumlah penduduk lansia yang diproyeksikan mencapai 64,9 juta jiwa pada 2050. 

Di tengah perubahan ini, survei terbaru Sun Life bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” mengungkap adanya kesenjangan tajam dalam kesiapan pensiun masyarakat Indonesia.

Survei tersebut menemukan bahwa mayoritas responden (77%) memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Namun, terdapat dua realitas yang sangat kontras di balik angka tersebut: bekerja karena pilihan atau bekerja karena tuntutan kebutuhan.

Dua Sisi Realitas Masa Pensiun

Bagi kelompok yang disebut sebagai "Gold Star Planners", tetap bekerja adalah sebuah aspirasi untuk menjaga stimulasi mental (36%) dan koneksi sosial (48%). Mereka merasa optimistis karena memiliki keamanan finansial yang mumpuni.

Sebaliknya, kelompok "Stalled Starters" terpaksa menunda pensiun akibat tekanan finansial. 

Sebanyak 71% responden mengaku membutuhkan penghasilan tambahan untuk biaya hidup sehari-hari, sementara 43% lainnya harus menunda pensiun demi membiayai pendidikan atau kebutuhan anak. 

Fenomena ini diperparah oleh status mereka sebagai sandwich generation yang harus menanggung beban finansial orangtua sekaligus anak secara bersamaan.

Risiko AI dan Minimnya Perencanaan

Salah satu temuan menarik adalah lonjakan penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini sebagai sumber informasi keuangan, yang meningkat dari 13% menjadi 30%. 

Di sisi lain, minat terhadap nasihat profesional dari bank maupun penasihat keuangan independen justru menurun.

Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo memperingatkan risiko perencanaan mandiri tanpa panduan ahli.

“AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi sering kali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi saran yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang. Saat teknologi mengubah cara orang merencanakan pensiun, pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” ungkap Albertus. 

Rendahnya literasi finansial juga tercermin dari kebiasaan menunda perencanaan. Sebanyak 24% responden tidak memiliki rencana apa pun, dan 34% baru mulai menyusun rencana hanya dua tahun sebelum berhenti bekerja.

Kesehatan sebagai Aset Utama

Selain faktor finansial, kesehatan fisik (58%) dan kesehatan mental (52%) menjadi faktor penentu optimisme masa tua. 

Sebaliknya, kesehatan yang buruk menjadi alasan utama bagi 22% responden yang terpaksa pensiun lebih awal dari rencana semula.

“Kesehatan adalah bentuk kekayaan yang nyata di masa pensiun. Kesehatan memengaruhi kapan orang pensiun dan bagaimana kualitas hidup mereka di masa itu,” tutup Albertus. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya