Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERENCANAAN pensiun sering kali dianggap sebagai agenda jangka panjang yang bisa ditunda hingga penghasilan mapan atau tanggungan berkurang. Namun, menunda justru menjadi kesalahan paling umum dalam mempersiapkan masa tua. Hal itu ditegaskan oleh Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina Hananto, Senin (19/1).
Menurut Ligwina, banyak orang kehilangan peluang karena menunggu kondisi yang dianggap sempurna. Padahal, esensi dari perencanaan masa tua adalah memulai sedini mungkin dengan sumber daya yang ada.
“Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal: penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan,” ujar Ligwina.
Ia merekomendasikan formula pengelolaan keuangan 10/20/30/40 sebagai panduan praktis.
MI/HO--Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina HanantoDalam pola ini, masyarakat disarankan mengalokasikan minimal 10% pendapatan untuk investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan 40% untuk kebutuhan rutin. Strategi ini dinilai adaptif untuk dimulai di usia produktif maupun saat memasuki usia 40-an.
Urgensi perencanaan ini semakin nyata mengingat struktur demografi Indonesia yang diprediksi akan mengalami lonjakan jumlah penduduk lanjut usia dalam dua dekade ke depan.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menekankan bahwa pensiun harus dipandang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang dirancang secara sadar.
“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ungkap Mona.
Untuk mendukung transisi tersebut, Bank DBS Indonesia memperkenalkan Retirement Goal Calculator. Alat digital ini membantu nasabah mensimulasikan kebutuhan dana pensiun dengan memperhitungkan inflasi, imbal hasil investasi, hingga gaya hidup yang ingin dipertahankan.
Namun, kesiapan finansial saja tidak cukup. Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, mengingatkan pentingnya aspek perlindungan sebagai fondasi.
“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, serta menikmati masa tua dengan percaya diri,” jelas Djoko.
Melalui pendekatan yang menyeluruh—mulai dari edukasi hingga solusi perbankan—masyarakat didorong untuk melihat masa pensiun bukan sebagai fase pasif, melainkan masa yang tetap aktif, mandiri, dan penuh percaya diri. (Z-1)
Stabilitas keuangan yang baik dan terencana adalah salah satu kunci kesiapan dalm menyambut masa tua yang penuh kebahagian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved