Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Redefinisi Pensiun: Memulai Tanpa Menunggu Momen Ideal

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 04:09
Redefinisi Pensiun: Memulai Tanpa Menunggu Momen Ideal
Ilustrasi(Freepik)

PERENCANAAN pensiun sering kali dianggap sebagai agenda jangka panjang yang bisa ditunda hingga penghasilan mapan atau tanggungan berkurang. Namun, menunda justru menjadi kesalahan paling umum dalam mempersiapkan masa tua. Hal itu ditegaskan oleh Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina Hananto, Senin (19/1).

Menurut Ligwina, banyak orang kehilangan peluang karena menunggu kondisi yang dianggap sempurna. Padahal, esensi dari perencanaan masa tua adalah memulai sedini mungkin dengan sumber daya yang ada.

“Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal: penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan,” ujar Ligwina.

Ia merekomendasikan formula pengelolaan keuangan 10/20/30/40 sebagai panduan praktis. 

MI/HO--Founder & CEO QM Financial sekaligus Lead Financial Trainer, Ligwina Hananto

Dalam pola ini, masyarakat disarankan mengalokasikan minimal 10% pendapatan untuk investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan 40% untuk kebutuhan rutin. Strategi ini dinilai adaptif untuk dimulai di usia produktif maupun saat memasuki usia 40-an.

Tantangan Demografi dan Perubahan Cara Pandang

Urgensi perencanaan ini semakin nyata mengingat struktur demografi Indonesia yang diprediksi akan mengalami lonjakan jumlah penduduk lanjut usia dalam dua dekade ke depan. 

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menekankan bahwa pensiun harus dipandang sebagai bagian dari perjalanan hidup yang dirancang secara sadar.

“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ungkap Mona.

Integrasi Investasi dan Proteksi

Untuk mendukung transisi tersebut, Bank DBS Indonesia memperkenalkan Retirement Goal Calculator. Alat digital ini membantu nasabah mensimulasikan kebutuhan dana pensiun dengan memperhitungkan inflasi, imbal hasil investasi, hingga gaya hidup yang ingin dipertahankan.

Namun, kesiapan finansial saja tidak cukup. Head of Investment & Insurance Products PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, mengingatkan pentingnya aspek perlindungan sebagai fondasi.

“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, serta menikmati masa tua dengan percaya diri,” jelas Djoko.

Melalui pendekatan yang menyeluruh—mulai dari edukasi hingga solusi perbankan—masyarakat didorong untuk melihat masa pensiun bukan sebagai fase pasif, melainkan masa yang tetap aktif, mandiri, dan penuh percaya diri. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya