Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN karyawan pabrik PT. Sri Tita Medika sebagai produsen alat kesehatan lokal seperti alat swab antigen, melakukan aksi demo pada Rabu (17/11) di depan halaman pabrik.
Mereka menyuarakan aspirasi terkait kesejahteraan yang semakin menurun, dan bahkan ratusan dari mereka terpaksa dirumahkan menyusul kondisi perusahaan yang terus merugi akibat kurangnya pendistribusian alat kesehatan yang sudah diproduksi. Hal itu terjadi karena masih maraknya alat swab antigen import di pasaran.
"Kami meminta kepada bapak presiden Joko Widodo agar pihak-pihak terkait diinstruksikan untuk lebih mengutamakan produksi alat kesehatan dalam negeri ketimbang alat kesehatan import. Agar nasib kami lebih baik," ungkap Owi Indra selaku perwakilan dari karyawan PT. Sri Tita Medika dilansir dari keterangan resmi, Kamis (18/11).
Baca Juga: Hamdan Zoelva Minta Pemerintah Kaji Ulang Impor Alat Kesehatan
Di lain sisi, General Manager PT. Sri Tita Medika Heru Purnomo tidak memungkiri kalau kondisi perusahaan sedang terpuruk. Hal ini akibat susahnya pendistribusian alat kesehatan berupa alat swab antigen karena masih banyaknya barang import yang tersebar di pasaran.
Oleh karenanya, dia juga menyampaikan dan mengimbau pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo untuk menghentikan masuknya produk import dan lebih mengutamakan alat kesehatan dalam negeri. Menurutnya ini merupakan hal penting karena dia juga menemukan di beberapa perusahaan di bawah BUMN seperti KAI dan RNI, masih menggunakan alat swab antigen import.
"Saya memohon kepada bapak Presiden Joko Widodo untuk meperhatikan dan memberikan instruksi kepada yang di bawah untuk memetahui peraturan terkait penggunaan produk dalam negeri yang tertuang dalam Kepres nomor 12/2021 dan nomor 15/2021. Hal ini perlu dilakulan agar penggunaan produk-produk lokal bisa lebih diperhatikan lagi dan dijalani di lapangan," pinta Heru.
Baca Juga: Menperin Bangga Alat Swab Antigen Indonesia Diekspor ke Mancanegara
Heru menambahkan, kebutuhan alat swab antigen sudah mampu diproduksi oleh produsen dalam negeri. Yang kurang adalah keberpihakan pemangku kepentingan terhadap produsen dalam negeri. Menurut Heru, PT. Sri Tita Medika sendiri bahkan bisa memenuhi kebutuhan alat swab antigen nasional sebanyak 25 juta per bulan.
Namun karena kurangnya penggunaan alat swab dalam negeri, bahkan lebih mengutamakan produk import, maka dalam beberapa bulan terakhir PT. Sri Tita Medika harus memangkas gaji dan juga jumlah karyawan.
"Kita tidak butuh subsidi dari pemerintah karena kami masih sanggup membiayai produksi yang dibutuhkan. Kami butuhkan sekarang adalah pasar yang adil bagi kami dalam mendistribusikan alat swab antigen yang kami produksi," ucap Heru.
Heru menegaskan bahwa regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah sebetulnya sudah baik. Namun memang dalam pelaksanaannya di lapangan, tidak sesuai dengan regulasi yang telah dibuat dan diarahkan.
"Harapan kami, semoga regulasi yang telah ditentukan bisa berjalan dengan semestinya agar produk buatan dalam negeri bisa diutamakan dan digunakan. Sebab yang untung adalah negara dan menyerap lapangan kerja lokal" pungkasnya. (OL-13)
Baca Juga: Penggunaan Produk Dalam Negeri Selamatkan Ekonomi Nasional
AbadiNusa memulai langkah sebagai usaha distribusi alat laboratorium dan alat kesehatan dengan keyakinan atas pentingnya akses alat kesehatan berkualitas.
Penguatan daya saing industri kesehatan nasional dinilai semakin krusial di tengah meningkatnya kebutuhan layanan medis, dan ketatnya persaingan global.
Tes laboratorium presisi menjawab berbagai masalah kesehatan, mulai alergi yang tidak kunjung membaik, demam berulang pada anak, hingga berat badan yang turun naik atau yoyo.
Ketua Gakeslab Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Andri Noviar menyampaikan bahwa banyak pelaku usaha alat kesehatan menyebut kondisi saat ini sebagai masa berduka bagi dunia alat kesehatan.
Gakeslab Indonesia menekankan pentingnya komitmen pemerintah dalam membangun dan memperkuat industri alat kesehatan (alkes) nasional.
Perusahaan fokus pada penguatan rantai distribusi, peningkatan efisiensi operasional, serta kemitraan strategis.
PT Eratex Djaja Tbk, produsen tekstil yang memasok untuk merek global seperti Uniqlo dan H&M, membantah kabar yang menyebut perusahaan tengah menghadapi permohonan PKPU
Arief menyebut perusahaan-perusahaan makanan minuman terus berusaha untuk mengelola sampah plastik. Salah satu upayanya adalah membentuk industri daur ulang.
GUBERNUR DKI Jakarta, Pramono Anung, menghadiri kegiatan World of Coffee Jakarta di Jakarta International Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (17/5).
Thule Perusahaan produsen peralatan aktivitas outdoor asal Swedia menggelar Thule Expo #BringYourLife di Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue Atrium, Jakarta, 5-10 November 2024.
SERIKAT pekerja sektor pertembakauan mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak negatif dari kebijakan restriktif dalam Peraturan Pemerintah terkait rokok polos tanpa merek
KLHK menilai perlu adanya upaya paksa untuk meningkatkan partisipasi produsen dalam upaya pengurangan sampah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved