Kamis 21 Oktober 2021, 21:11 WIB

Krisis Listrik, Tiongkok Cetak Rekor Impor Batu Bara Indonesia

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Krisis Listrik, Tiongkok Cetak Rekor Impor Batu Bara Indonesia

Antara/Makna Zaezar.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Barito, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (1/9).

 

INDONESIA sekarang menjadi pemasok batu bara terbesar bagi Tiongkok. Pengirimannya mencapai rekor bulan lalu setelah Beijing melonggarkan pembatasan impor untuk mengatasi krisis listriknya.

Kargo kokas, batu bara termal, dan batu bara cokelat dari Asia Tenggara melampaui 21 juta ton pada September atau lebih dari 17 juta ton pada Agustus. Impor tersebut sekarang mencapai sekitar dua pertiga dari total impor Tiongkok, menurut data bea cukai. Pembeli Tiongkok terpaksa memanfaatkan pemasok bahan bakar lain untuk menggantikan pasokan Australia yang dilarang hampir setahun lalu setelah hubungan politik dengan Canberra memburuk.

Baca juga: Harga Rumah Baru Tiongkok Turun Pertama Kali dalam Enam Tahun

Ditambah lagi harapan bahwa Mongolia dapat memasok lebih banyak batu bara, terutama kualitas yang lebih tinggi yang diproduksi oleh Australia dan digunakan oleh pabrik baja, pupus karena pembatasan pandemi di tetangga Tiongkok itu menghasilkan kargo turun di bawah 1 juta ton.

Harga batu bara acuan Indonesia telah mencapai rekor tertinggi, didukung oleh lonjakan permintaan sejak Juni, ketika Beijing berjanji untuk meningkatkan impor. Ini merupakan upaya Negeri Tirai Bambu yang pada akhirnya gagal untuk mencegah krisis listrik yang tengah menggelapkan negara itu.

Baca juga: September, Ekspor Tiongkok Melonjak saat Krisis Energi

Akhir tahun lalu, Tiongkok mencapai kesepakatan tiga tahun dengan perusahaan tambang Indonesia untuk US$1,5 miliar sebagai bahan bakar karena Beijing mencari opsi jangka panjang untuk menggantikan pasokan Australia. Indonesia menyediakan banyak batu bara cokelat bermutu rendah yang memiliki keunggulan harga tetapi kurang efisien dan lebih buruk bagi iklim.

Indonesia harus terus mengirim lebih banyak ke Tiongkok karena permintaan melemah dari pasar utama lain, India, menurut analis Bloomberg Intelligence Michelle Leung. Namun, pasokan masih bisa rentan terhadap hambatan. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia telah meminta produsen untuk memprioritaskan pasokan dalam negeri, sementara aktivitas pertambangan terhambat oleh banjir dan pandemi.

Baca juga: Tanpa DMO Batu Bara, Industri Semen sampai Tekstil Terancam Kolaps

Harga satu jenis bahan bakar berkualitas rendah di Indonesia mencapai US$160 hingga US$170 per ton minggu ini, menurut para pedagang. Itu naik dari US$110 menjadi US$120 awal bulan ini. Pasokan dari negara Asia Tenggara tetap ketat karena gangguan terkait cuaca dan penjual memenuhi komitmen sebelumnya kepada para pembeli. (Bloomberg/OL-14)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Kemenkominfo: Dampak Erupsi Semeru Bikin Jaringan Operator Seluler Mati

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 08 Desember 2021, 11:04 WIB
Kemenkominfo menyebut, kualitas layanan jaringan telekomunikasi terganggu akibat erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur, yang terjadi pada...
Dok.Insight First Asia

Insight First Asia Bantu Penjual Pantau Peta Persaingan di Lapak Ecommerce

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 Desember 2021, 10:54 WIB
Seller mampu mengetahui potensi penjualan di marketplace, mengetahui potensi kerjasama dengan merchant-merchant besar di market...
Dok. Citi Foundation

Wirausaha Mangrove Terpilih sebagai Pemenang Program Inkubator UNDP dan Citi Foundation

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 08 Desember 2021, 10:37 WIB
Para pemenang berkesempatan mewakili Indonesia pada Youth Co:Lab Asia-Pacific Summit...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya