Rabu 13 Oktober 2021, 16:04 WIB

Indeks Manufaktur Diprakirakan kembali Ekspansif pada Triwulan IV

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Indeks Manufaktur Diprakirakan kembali Ekspansif pada Triwulan IV

Antara/Ahmad Subaidi.
Kepala Dinas Perindustrian NTB Nuryanti menunjukkan cokelat lombok Ankrella produk UMKM NTB di NTB Mall, Mataram, NTB, Jumat (8/10).

 

PROMPT Manufacturing Index Bank Indonesia atau PMI BI pada triwulan III 2021 menurun menjadi 48,75% dari fase ekspansi di 51,45% pada triwulan sebelumnya. Ini yang mengindikasikan kinerja industri pengolahan turun.

Namun pada triwulan IV 2021, kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan membaik pada kisaran 51,17 dan berada pada fase ekspansi. Penurunan PMI BI tersebut sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha sektor industri pengolahan triwulan III 2021 dan perkiraan triwulan IV 2021 hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU).

Hal tersebut tercermin dari SBT kegiatan usaha industri pengolahan triwulan III 2021 dan perkiraan triwulan IV 2021 masing-masing sebesar -0,10% dan 1,13%. Berdasarkan komponen pembentuknya, penurunan PMI BI pada triwulan III 2021 terjadi pada seluruh komponen, terutama volume produksi dan volume total pesanan yang turun cukup dalam dibandingkan triwulan sebelumnya dan berada pada fase kontraksi. "Penurunan PMI BI pada triwulan tersebut disebabkan oleh sejumlah aktivitas yang terbatas saat penerapan PPKM Darurat/Level 4 yang terjadi di sepanjang Juli-Agustus 2021," kata Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia Muhamad Nur, Rabu (13/10).

Pada triwulan III 2021, volume produksi tercatat turun dan berada pada level kontraksi dengan indeks sebesar 49,46% atau lebih rendah dari 54,2% pada triwulan sebelumnya. Responden menyampaikan bahwa penurunan volume produksi sejalan dengan terbatasnya aktivitas masyarakat sehingga berdampak pada permintaan masyarakat saat PPKM Darurat/Level 4 di sejumlah daerah dalam rangka pengendalian covid-19.

Pada triwulan IV 2021, volume produksi diprakirakan meningkat dan kembali berada dalam fase ekspansi dengan indeks sebesar 51,98% yang sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat serta didorong penurunan level PPKM di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali. 

Baca juga: Jokowi: Alih Kelola Freeport Hingga Blok Rokan Bukti Keseriusan Hilirisasi

Komponen volume pesanan barang input tercatat juga melambat sejalan dengan menurunnya volume produksi. Indeks volume pesanan barang input tercatat sebesar 51,53% atau melambat dari 54,03% pada triwulan sebelumnya, meski menjadi satu-satunya komponen yang masih berada pada fase ekspansi (threshold>50) pada triwulan III 2021. Penurunan volume pesanan barang input terjadi pada sebagian subsektor, terutama subsektor makanan, minuman, dan tembakau, serta subsektor barang kayu & hasil hutan lain. (OL-14)

Baca Juga

Dok Minaqu Home Nature

Menteri Koperasi UKM Dukung Minaqu Jadi Lokomotif Pasar Global

👤Media Indonesia 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 20:50 WIB
Para petani, lanjut Teten, harus dikonsolidasi, jangan biarkan mereka hanya menggarap di lahan yang sempit. Lebih baik terkonsolidasi...
 MI/Usman Iskandar.

Pahami Jenis dan Cara Investasi Reksa Dana

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 20:38 WIB
Reksa dana menjadi salah satu produk perbankan yang populer karena jenis investasi yang menguntungkan dan tingkat profitabilitasnya pasti...
Dok. Kinglnad Avenue

Gandeng Cushman & Wakefield, Kingland Avenue Hadirkan Layanan Bertaraf Internasional 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 19 Oktober 2021, 20:28 WIB
“Kerja sama dengan Cushman & Wakefield sebagai building management service, akan menjadikan Kingland Avenue sebuah kawasan hunian...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Mencegah Proyek Kereta (jadi) Mubazir

Pembengkakan biaya menjadi biang keladi perlu turun tangannya negara membiayai proyek dengan dana APBN.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya