Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PROMPT Manufacturing Index Bank Indonesia atau PMI BI pada triwulan III 2021 menurun menjadi 48,75% dari fase ekspansi di 51,45% pada triwulan sebelumnya. Ini yang mengindikasikan kinerja industri pengolahan turun.
Namun pada triwulan IV 2021, kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan membaik pada kisaran 51,17 dan berada pada fase ekspansi. Penurunan PMI BI tersebut sejalan dengan perkembangan kegiatan usaha sektor industri pengolahan triwulan III 2021 dan perkiraan triwulan IV 2021 hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU).
Hal tersebut tercermin dari SBT kegiatan usaha industri pengolahan triwulan III 2021 dan perkiraan triwulan IV 2021 masing-masing sebesar -0,10% dan 1,13%. Berdasarkan komponen pembentuknya, penurunan PMI BI pada triwulan III 2021 terjadi pada seluruh komponen, terutama volume produksi dan volume total pesanan yang turun cukup dalam dibandingkan triwulan sebelumnya dan berada pada fase kontraksi. "Penurunan PMI BI pada triwulan tersebut disebabkan oleh sejumlah aktivitas yang terbatas saat penerapan PPKM Darurat/Level 4 yang terjadi di sepanjang Juli-Agustus 2021," kata Kepala Grup Departemen Komunikasi Bank Indonesia Muhamad Nur, Rabu (13/10).
Pada triwulan III 2021, volume produksi tercatat turun dan berada pada level kontraksi dengan indeks sebesar 49,46% atau lebih rendah dari 54,2% pada triwulan sebelumnya. Responden menyampaikan bahwa penurunan volume produksi sejalan dengan terbatasnya aktivitas masyarakat sehingga berdampak pada permintaan masyarakat saat PPKM Darurat/Level 4 di sejumlah daerah dalam rangka pengendalian covid-19.
Pada triwulan IV 2021, volume produksi diprakirakan meningkat dan kembali berada dalam fase ekspansi dengan indeks sebesar 51,98% yang sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat serta didorong penurunan level PPKM di sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Bali.
Baca juga: Jokowi: Alih Kelola Freeport Hingga Blok Rokan Bukti Keseriusan Hilirisasi
Komponen volume pesanan barang input tercatat juga melambat sejalan dengan menurunnya volume produksi. Indeks volume pesanan barang input tercatat sebesar 51,53% atau melambat dari 54,03% pada triwulan sebelumnya, meski menjadi satu-satunya komponen yang masih berada pada fase ekspansi (threshold>50) pada triwulan III 2021. Penurunan volume pesanan barang input terjadi pada sebagian subsektor, terutama subsektor makanan, minuman, dan tembakau, serta subsektor barang kayu & hasil hutan lain. (OL-14)
Fokus kebijakan, sebaiknya diarahkan pada segmen industri perakitan, pengujian, dan pengemasan (assembly, testing, and packaging) serta manufaktur komponen pendukung.
PEMERINTAH menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik.
Pada kuartal III 2025, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 5,58 persen (yoy) dan berkontribusi 17,39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Pembangunan kawasan hunian Grahayana Homes resmi dimulai melalui seremoni groundbreaking di Adiarsa Barat, Karawang Barat, pada Sabtu (29/11).
Ajang ini akan menampilkan berbagai solusi teknologi, mesin industri, otomasi, hingga manufaktur presisi dari 1,076 eksibitor terkemuka dari 29 negara.
CEO Solid Corp, George Santos, menerima penghargaan pada ajang Anugerah Penggerak Nusantara (APN) 2025 untuk kategori Industri dan Manufaktur.
Bank Indonesia melakukan reformasi pengaturan industri sistem pembayaran, salah satunya Transaksi, Interkoneksi, Kompetensi, Manajemen Risiko, dan Infrastruktur Teknologi Informasi.
BANK Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada pada rentang 4,7%–5,5%.
KETUA Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mukhamad Misbakhun meminta agar Bank Indonesia (BI) untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap pelemahan rupiah dipicu tekanan global dan domestik, dengan modal asing keluar Rp25,1 triliun pada Januari 2026.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved