Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDAPATAN negara di 2021 diperkirakan meleset dari target. Hal tersebut terjadi karena penerimaan pajak diproyeksikan akan lebih rendah dari yang telah ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Mulanya, pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp1.743,6 triliun. Jumlah itu berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp1.229,6 triliun, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp215 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp298,2 triliun.
Namun pemerintah memproyeksikan pendapatan negara akan sedikit terkoreksi lantaran terjadi peningkatan kasus covid-19 di awal triwulan III. Hal itu berdampak pada terbatasnya mobilitas masyarakat dan terhambatnya aktivitas ekonomi.
"Outlook APBN 2021 kalau kita lihat outlook pendapatan Rp1.735 triliun, atau 99,5% secara total hampir memenuhi sesuai UU, tapi secara komposisi mungkin agak berbeda," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (23/8).
Perubahan komposisi pendapatan itu terjadi karena pemerintah memperkirakan penerimaan pajak yang ditargetkan dalam APBN 2021 tidak tercapai, alias shortfall. Hingga akhir tahun, pungutan pajak diproyeksikan hanya akan terkumpul Rp1.142,5 triliun, atau 92,9% dari APBN dan lebih rendah Rp87,1 triliun dari yang ditargetkan.
Sementara itu penerimaan kepabeanan dan cukai diperkirakan akan lebih tinggi dari yang ditargetkan sebelumnya, yakni Rp233,4 triliiun, atau 108,6% dari APBN. Demikian halnya dengan PNBP yang diproyeksikan akan mencapai Rp357,2 triliun, lebih tinggi dari yang ada di APBN.
"Jadi dalam hal ini secara total tidak terlaku banyak berbeda dalam hal pendapatan negara," kata Sri Mulyani.
Adapun belanja negara diperkirakan akan mencapai Rp2.697,2 triliun, lebih rendah Rp52,8 triliun dari yang dianggarkan sebelumnya di APBN 2021 sebesar Rp2.750 triliun. Perkiraan lebih rendahnya belanja negara itu lantaran belanja pemerintah pusat diproyeksikan hanya Rp1.927 triliun, lebih rendah dari alokasi APBN sebesar Rp1.954,5 triliun.
Demikian pula dengan perkiraan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang hanya Rp770,3 triliun, lebih rendah Rp25,2 triliun dari alokasi APBN Rp795,5 triliun.
"Dengan demikian outlook keseimbangan primer kita Rp595,3 triliun, lebih rendah dari APBN yang sebesar Rp633,1 triliun, atau dalam hal ini Rp37,9 triliun lebih rendah dari UU APBN," jelas Sri Mulyani.
Perubahan perkiraan pendapatan dan belanja negara itu berdampak pada perkiraan defisit anggaran 2021. Sri Mulyani mengatakan, dengan memperhitungkan perkembangan situasi yang ada, defisit diperkirakan akan lebih rendah dari yang dipatok dalam APBN.
Defisit yang rendah itu tercermin dari nominal yang menyusut menjadi Rp961,5 triliun, sebelumnya sebesar Rp1.006,4 triliun. Kendati nominal defisit susut, persentase defisit anggaran diperkirakan tetap sama yakni 5,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Ini karena PDB kita pertumbuhannya di bawah asumsi kita yang tadinya 5% menjadi hanya sekitar 3,7% - 4,5%. Hingga nominalnya lebih kecil, tapi persentase terhadap PDB terlihat lebih besar yaitu 5,8%. Tapi secara postur APBN 2021 masih cukup kredibel dari sisi keseluruhan. Kita masih bisa tetap mengawal dalam 4 bulan terakhir," pungkas Sri Mulyani. (OL-4)
Motivasi tersebut muncul karena Gen Z belajar dari pengalaman beban finansial atau kesalahan pengelolaan keuangan yang dilakukan generasi orangtua mereka di masa lalu.
Harga emas global dan Antam turun pada 17 Februari 2026. Prediksi untuk Rabu, 18 Februari, diperkirakan stabil atau berpotensi rebound tipis dengan harga Antam Rp2,96–3,05 juta per gram.
Kemudahan transaksi digital, mulai dari one-click checkout hingga godaan promo di notifikasi ponsel, menjadi pemicu utama tingginya perilaku konsumtif.
Sentimen global masih cukup kondusif bagi penguatan harga emas dalam jangka pendek.
SCAM Kamboja bukan sekadar cerita kriminal lintas negara atau kisah tragis warga negara yang terjerat pekerjaan palsu di luar negeri.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
Tahun 2024, sektor ini berkontribusi hingga Rp710,3 triliun terhadap Produk Domestik Bruto, devisa ekspor sebesar US$1,8 miliar, serta penerimaan cukai Rp217 triliun.
Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut, lanjutnya, berasal dari kenaikan penerimaan bruto sebesar 7%, serta penurunan signifikan restitusi hingga 23%.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap praktik penghindaran pajak berskala besar di sektor perdagangan tekstil.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengeluarkan instruksi keras kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk tidak tunduk pada tekanan pihak luar.
Rudianto menilai tindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum (APH) sangat krusial di tengah upaya Presiden Prabowo Subianto meningkatkan penerimaan negara.
Penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai hingga Oktober 2025 mencapai Rp249,3 triliun atau 80,3% dari target.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved