Headline
Ada unsur yang ingin Indonesia chaos.
KEMAMPUAN petani untuk menerapkan pemupukan berimbang semakin mendesak dilakukan, di tengah optimalisasi pupuk bersubsidi dan kondisi hara tanah.
"Pemupukan berimbang dapat berikan kontribusi 15-60% tergantung kondisi tanah dan karakteristik tanaman. Di tanah tertentu pemupukan yang bisa memberikan produksi 60%," ungkap Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Prof.Dedi Nursyamsi, dalam Training of Fasilitator Pelatihan BPP Kostratani Proyek IPDMIP di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP), Bogor, Jawa Barat, Kamis (29/4).
IPDMIP adalah Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program merupakan program pemerintah di bidang irigasi yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi, baik sistem irigasi kewenangan pusat, kewenangan provinsi maupun kewenangan kabupaten.
Dedi menekankan pemupukan berimbang merupakan pemberian sejumlah pupuk sesuai kebutuhan dan kesuburan tanah agar terjadi keseimbangan hara di dalam tanah, sehingga terjadi kondisi kondusif bagi tumbuh kembang tumbuhan.
"Dalam pemupukan berimbang, dengan secukupnya sesuai kebutuhan, sesuai kemampuan tanah menyediakan hara untuk optimal. Contohnya jagung yang sifatnya rakus karena itu perlu banyak urea 300-350 kilogram per hektare, beda dengan kedelai yang hanya 50 kg/ha," bebernya.
Ia juga menekankan, agar proses pemupukan menjadi lebih tepat, diperlukan tata cara pemupukan yang baik dan benar juga perlu dilakukan, atau yang dikenal dengan 5T yaitu Tepat jenis, Tepat dosis, Tepat waktu, Tepat tempat, dan Tepat cara.
"Sebelum pemupukan berimbang, sehatkan dahulu tanahnya, agar pupuk mampu bekerja optimal," tegasnya
Karenanya, kemampuan dan pengetahuan penyuluh mengenai pemupukan berimbang dan kesehatan tanah sangat penting agar bisa memastikan petani melakukan kegiatan pemupukan berimbang dan meneruskannya kepada petani lainnya.
Oleh sebab itu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melatih penyuluh fasilitator yang akan melakukan bimbingan teknis (bimtek) di BPP Kostratani dan lokasi Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) dengan tema Pemupukan Berimbang Tingkatkan Produktivitas dan Daya Saing Pertanian.
Pelatihan bagi para penyuluh fasilitator proyek IPDMIP ini dilakukan selama 5 hari padal 29 April-2 Mei 2021 dan serempak dilakukan di Balai Besar Pelatihan Pertanian yang dimiliki BPPSDMP.
Di PPMKP (Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian) Ciawi dengan peserta dari Aceh, Sumut, Sumsel, Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jambi, Bangka Belitung, Kepri, Riau, Bengkulu, DKI Jakarta.
Kemudian BBPP (Balai Besar Pelatihan Peternakan) Batu Jatim dengan peserta dari Kalbar, Kalsel, NTB, NTT, Jawa Timur, Jateng, Kalteng, Kaltim, Kaltara, Bali, dan DI Yogyakarta.
Begitu pula di BBPP Batangkaluku dengan peserta dari Sulsel, Sulteng, Sulut, Sulbar, Sultra, Papua, Papua Barat, Maluku, Malut, dan Gorontalo.
Adopsi teknologi
Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Leli Nuryati mengatakan ToF ini bertujuan meningkatkan kompetensi penyuluh dalam adopsi inovasi teknologi pemupukan berimbang, pengelolaan bahan organik dan konservasi tanah. Termasuk melakukan implementasi teknologi pemupukan berimbang di level penyuluh dan petani.
"ToF ini dilakukan serempak di tiga BBPP secara online dan offline, 258 orang penyuluh pertanian provinsi dan kabupaten/kota perwakilan lokasi IPDMIP 66.776 orang penyuluh se Indonesia, baik penyuluh pertanian PNS, PPPK, THL TBPP, swadaya dan swasta yang bergabung secara offline maupun online," jelasnya.
Tak hanya sebatas tahu mengenai pemupukan berimbang, TOF ini juga diharapkan bisa memperkuat perencanaan erdkk bagi pupuk bersubsidi. Termasuk memperkuat koordinasi antarlembaga penyuluhan di tingkat provinsi hingga kabupaten baik secara horizontal maupun vertikal.
"Sehingga nantinya penyuluh pertanian (PNS, PPPK , THL TBPP, Swadaya maupun swasta) dapat mengawal dan mendampingi petani untuk mengimplementasikan pemupukan berimbang sesuai keadaan hara di masing-masing daerah," tambahnya.
Untuk di lokasi IPDMIP, terlatihnya tim fasilitator IPDMIP di BPP Kostratani dan tersedianya bahan ajar bimtek di lokasi BPP Kostratani hingga tingkat kabupaten. (RO/OL-09))
Potensi produksi padi di Kabupaten Cianjur tahun ini selama periode Januari-Agustus meningkat dibanding tahun lalu
PEMERINTAH Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), memastikan akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, terkait kasus tanah demplot pertanian.
Presiden Prabowo Subianto mengadakan rapat secara maraton bersama sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (20/8).
Wamentan Sudaryono mengajak para wisudawan Polbangtan Yoma untuk menjemput impian dengan usaha terbaik dan bangkit membangun sektor pertanian.
Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi beras nasional hingga September 2025 surplus sebanyak 4,86 juta ton dari target yang telah ditetapkan.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut HUT ke-80 RI merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap kemandirian pangan nasional.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melakukan sosialisasi di berbagai lokasi terkait dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2025.
TENAGA Penyuluh Pertanian di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sangatlah kurang.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menggelar Pelatihan Vokasi PascaPanen dan Pengolahan Hasil Buah dan Sayuran.
Tujuan klasterisasi untuk mendorong pembentukan korporasi di tingkat kabupaten guna menaungi klaster-klaster komoditas pangan.
Kunjungan mahasiswa Polbangtan merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta pengembangan praktik pertanian modern.
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengingatkan petani untuk mengembangkan produk olahan dari hasil pertanian, sehingga tidak lagi menjual produk mentah.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved