Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Helm Klasik semakin Dilirik

Dzulfikri Putra Malawi
03/4/2016 09:00
Helm Klasik semakin Dilirik
(MI/BARY FATHAHILAH)

RICARDUS Berata, 28, dan Harianus Supin, 39, sedang merakit helm di ruangan berukuran setengah lapangan futsal. Bahan bakunya kancing berbahan kuningan, lapisan kulit berbahan mikrofi ber suede dan busa, hingga batok helm berbahan plastik acrylic butadien styrene (ABS). Sementara itu, sang pemilik, Kristianus Ligara, 31, kebagian untuk menyelesaikan cutting stiker helm yang dibuat khusus atau custom.

Sejak 2014, pria yang akrab disapa Kris ini telah memulai usahanya memproduksi helm bergaya klasik. Bekal ilmu desain yang diperoleh saat mengenyam pendidikan di Pasadena City College, Amerika, jurusan multimedia design (2005- 2009) dan Art Center College of Design (2009-2010) di tempat yang sama serta kegemarannya terhadap motor vespa, kini diaplikasikan dalam dunia bisnis nyata lewat produk helm lokal. Bahkan, di kalangan pecinta otomotif, merek dagang yang diberi nama Boulter Helmet ini dikenal sebagai helm klasik custom dengan tampilan dan detail yang apik di kelasnya. Seusai menjadi guru di kota kelahirannya, Pontianak, dan bekerja pada sebuah perusahaan kreatif sampai 2012, Kris memulai risetnya untuk membuat helm.

Selama satu tahun ia survei ke pabrik-pabrik yang memproduksi helm untuk bekerja sama mencetak helm rancangannya. Alhasil pada 2014, Kris mendapatkan rekanan pabrik yang mampu mencetak 100 helm setiap warna untuk lebih dari empat warna dasar yang digunakan. "Saat itu pembeli bisa memilih warna bagian lapisan dalam dan luar helm untuk dipadupadankan sesuai keinginannya dari stok yang ada," ungkapnya kepada Media Indonesia, Selasa (22/3).

Dalam sebulan, Kris mampu memproduksi 200 buah helm, 20% di antaranya akan diperuntukkan untuk pembeli yang ingin mengcustom. Selain pabrik, Kris juga menggandeng beberapa rekanan untuk menyelesaikan tahap pengecatan bagi helm custom. Tentunya, harga yang diberikan pun sedikit lebih mahal karena ada sentuhan khusus untuk menyelesaikannya sesuai desain dari yang diinginkan pemilik. Mulai dari cat, cutting sticker grafi s, dan ketebalan lapisan dalam atau ukuran dengan range harga Rp650 ribu-Rp800 ribu per buah. Jika Anda menginginkan custom dengan ukuran yang nyaman dan sesuai besar kepala Anda, Kris menyarankan untuk datang langsung ke workshop-nya di bilangan Limo, Depok, Jawa Barat (depan Samsat Cinere).

Kris juga rajin mengikuti pameran- pameran otomotif sehingga produknya banyak terjual ke berbagai negara, seperti Inggris, Korea Selatan, Belanda, dan Jerman. Selain itu, Boulter juga sedang mempersiapkan lisensi SS9 untuk pasar Singapura dan SIRIM untuk pasar Malaysia yang standar kualitasnya setara Eropa. Karena sudah mengantongi lisensi SNI, Boulter dengan mudah menyebarkan produknya ke kota besar, seperti di Medan, Semarang, Bandung, Bali, Surabaya, dan Pontianak.

"Dunia otomotif mengalami gap pembeli. Kalau mau beli helm dengan kualitas bagus, harganya jutaan karena harus impor, sementara helm murah itu desainnya jelek. Boulter mencoba mengakomodasi pangsa pasar menengah dengan harga terjangkau dengan kualitas bagus," lanjut Kris. Dengan bermodal RP70 juta, kini Kris mengaku balik modal. Namun demikian, profit nyata belum dapat dirasakan karena ia terus mengembangkan produk baru. "Sampai saat ini masih diputar untuk operasional karena saya tidak mau berhenti pada produk yang sudah ada. Apalagi untuk custom, selalu saya kembangkan lebih banyak lagi variasi dan detailnya," pungkasnya. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya