Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Oktober 2020 surplus sebesar US$ 3,61 miliar, dibandingkan surplus neraca perdagangan barang September 2020 yang sebesar US$ 2,39 miliar.
"Surplus neraca dagang ini meningkat besar karena terjadi penurunan dalam pada impor di bulan Oktober 2020," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Setianto, dalam konferensi pers virtual BPS, Senin (16/11).
Penurunan impor yang dalam terbesar adalah non migas untuk golongan barang utama, yaitu impor mesin dan elektrik yang -11,9% dari US$1.688,9 juta pada September 2020, menjadi US$ 1.488 juta pada Oktober dan dari sisi volume -38,72% dari 117,7 ribu ton menjadi 72,1 ribu ton.
Kemudian komoditas impor selanjutnya serealia -12,83% dari US$273,9 juta pada September 2020 menjadi US$238,8 juta pada Oktober ini. Dari sisi volume, serealia juga -17,47% dari 1.148,8 ribu ton menjadi hanya 948,1 ribu ton.
Menurut jenis barang, pembentuk surplusnya neraca perdagangan barang Oktober 2020 berasal dari peningkatan migas US$ -450,1 juta, utamanya untuk minyak mentah dan hasil minyak terjadi defisit sebesar US$ -131,2 juta, hasil minyak US$ -543,2 juta. Namun untuk neraca perdagangan gas, terjadi surplus US$ 224,3 juta.
Untuk non migas, terjadi surplus cukup besar pada Oktober, yaitu US$ 4,06 miliar. "Sehingga secara keseluruhan kita masih surplus US$ 3,61 miliar," kata Setianto.
Untuk neraca perdagangan non migas, negara terbesar penyumbang surplus, berasal dari AS dimana neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 1,03 miliar, disusul dengan Filipina, Indonesia surplus US$ 570,8 juta), dengan India Indonesia surplus US$ 546,1 juta.
Sepanjang Januari-Oktober 2020, neraca perdagangan barang Indonesia masih surplus US$ 17,07 miliar. Sementara bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang defisit yaitu US$ -2,12 miliar.
"Meskipun secara keseluruhan 1 tahun Januari-Desember 2019, Neraca perdagangan masih defisit sebesar US$ -3,59 miliar. Bila dibandingkan Januari-Oktober 2018 (US$ -5,57 miliar) dan 2019 (US$ -2,12 miliar), maka di 2020 ini mengalami peningkatan atau surplus dibandingkan dua tahun sebelumnya yang mengalami defisit," kata Setianto. (E-1)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,45%, menandai momentum pembalikan arah ekonomi yang solid.
IHSG mencetak sejarah baru (All Time High) di level 8.859, mengabaikan tensi geopolitik global berkat solidnya data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Oktober 2025, ekspor tercatat US$24,24 miliar dan impor US$21,84 miliar sehingga surplus US$2,39 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Industri penunjang minyak dan gas (migas) dalam negeri semakin menunjukkan peran strategisnya.
Holding UMKM Expo 2025 bertema "Ekosistem Bisnis UMKM Kuat, Siap Menjadi Jagoan Ekspor” menjadi wadah yang sangat baik untuk perkembangan UMKM.
Nilai ekspor non-migas Jawa Barat pada periode Januari hingga Oktober 2025 telah menyentuh angka USD 32,01 miliar.
Delapan perusahaan asal Jawa Timur ambil bagian dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Serentak yang dipimpin Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri.
Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi produk Malaysia karena kedekatan budaya, selera, dan preferensi konsumen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved