Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa restrukturisasi kredit di perbankan per 5 Oktober 2020 sudah mencapai Rp914,65 triliun dengan debitur sebanyak 7,53 juta.
Angka tersebut terdiri dari restrukturisasi kredit UMKM sebesar Rp361,96 trilun dengan 5,88 juta debitur dan non-UMKM sebesar Rp522,69 triliun dengan 1,65 juta debitur.
Untuk perusahaan pembiayaan, restrukturisasi kredit per 27 Oktober 2020 sudah mencapai Rp177,66 triliun dengan 4,79 juta kontrak yang disetujui. Sementara itu, lembaga keuangan mikro sebesar Rp26,44 miliar dari 35 LKM dan bank wakaf mikro Rp4,52 miliar dari 13 BWM.
"Mengingat masih dibutuhkannya kebijakan-kebijakan lanjutan, maka POJK 11/2020 ini punya peran yang sangat penting untuk memberikan keleluasaan. Karena memang kita lihat recovery masih butuh waktu, sehingga POJK kami perpanjang hingga Maret 2022," kata Ketua Dewan Komisioner OJK dalam konferensi pers perkembangan kebijakan dan kondisi terkini sektor jasa keuangan secara vitual, Senin (2/11).
Perpanjangan ini, lanjut Wimboh, akan menekankan penerapan manajemen risiko bank yang lebih memadai dalam perpanjangan restrukturisasi kredit. Mencakup antara lain penilaian kemampuan untuk tetap going concern dan prospek usaha debitur oleh penilaian masing-masing bank.
Baca juga : Kredit Hanya Tumbuh 0,12%, OJK Ungkap Penyebabnya
Sehingga nantinya bank bisa mengukur debitur mana yang perlu dibuatkan CKPN. Hal ini dilakukan juga agar bank dapat memahami bahwa kehati-hatian tetap dilakukan oleh sektor industri jasa keuangan dan juga melihat kondisi debitur dengan detail dan jeli.
"Lalu jika debitur sudah tidak punya living will silakan saja dibentuk cadangan dan juga akhirnya assesmentnya lebih objektif. Untuk itu kami imbau untuk industri perbankan tetap melakukan penilaian terhadap setiap debitur yang mau perpanjangan POJK 11 ini," tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan penempatan dana pemerintah di industri perbankan, Wimboh menambahkan Himbara susah menyalurkan kredit sebesar Rp166,39 triliun dari alokasi dana sebesar Rp47,5 triliun.
"Jadi sudah lebih dari tiga kali leverage-nya," ujar Wimboh.
Sementara itu, BPD telah menerima penempatan dana sebesar Rp14 triliun yang mendorong penyaluran kredit sebesar Rp17,39 triliun dan Bank Syariah mendapat penempatan dana sebesar Rp3 triliun yang disalurkan dalam bentuk kredit sebesar Rp1,7 triliun.
"Tentunya ini masih butuh waktu untuk mencapai leverage yang sebagaimana dijanjikan (tiga kali). Namun, kami yakin ini bisa dilakukan oleh BPD dan Bank Syariah. OJK akan mendorong untuk bank secara kontinu menyalurkan kredit kepada debitur-debitur yang tentunya sudah dilakukan asesmen dengan baik dan juga dalam rangka bukan hanya penempatan dana pemerintah, namun bagaimana going concern perbankan ini terjaga ke depannya," pungkasnya. (OL-2)
OJK menyelesaikan penyidikan perkara tindak pidana sektor jasa keuangan yang dilakukan dua pengurus PT Investree Radhika Jaya (PT IRJ).
Dana yang dikembalikan berasal dari hasil pemblokiran dan penelusuran aliran dana kejahatan digital yang sebelumnya dilaporkan masyarakat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat fungsi pelindungan konsumen di sektor jasa keuangan dengan menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 38 Tahun 2025.
OJK menemukan delapan pelanggaran serius dalam pemeriksaan terhadap penyelenggara pindar Dana Syariah Indonesia (DSI).
Untuk mendukung ekosistem ini, ICEx menerima pendanaan kolektif sebesar Rp1 Triliun (US$70 juta) dari berbagai pemegang saham strategis.
Membengkaknya utang pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online (pinjol) hingga Rp94,85 triliun per November 2025, mencerminkan semakin terhimpitnya kondisi keuangan masyarakat.
Per Desember 2025, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,63% secara tahunan (yoy) ditopang penyaluran kredit investasi yang tinggi.
Kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit digital yang cepat, mudah, dan terjangkau terus meningkat, terutama di luar kota-kota besar.
Keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi persoalan besar bagi pelaku usaha di Indonesia, khususnya UMKM dan generasi muda.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat kelas menengah masih membutuhkan dukungan kebijakan.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi mengungkapkan fasilitas pinjaman perbankan yang belum ditarik atau undisbursed loan masih cukup tinggi.
Ia menegaskan Bank Jakarta menyambut peluang penempatan dana berikutnya dari pemerintah pusat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved