Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
EKONOM dari Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah perlu memikirkan ihwal bertambahnya anggaran pengadaan vaksin di 2021. Sebab ia memperkirakan bila vaksin diproduksi, maka permintaan vaksin akan tinggi.
"Perlu diperhatikan oleh pemerintah pada 2021 adalah kemungkinan adanya penambahan anggaran pada saat tersedianya vaksin karena perkiraan tingginya permintaan vaksin, sehingga akan mendorong kenaikan belanja pemerintah," kata Josua saat dihubungi, Jumat (11/9).
"Tersedianya vaksin merupakan salah satu langkah krusial dalam pemulihan perekonomian nasional sehingga pengadaan vaksin ini seharusnya juga merupakan prioritas utama pada tahun 2021," sambungnya.
Pernyataan Josua itu berkaitan dengan kesepakatan yang dicapai pemerintah bersama Badan Anggaran DPR ihwal pelebaran defisit menjadi 5,7% dalam postur sementara APBN 2021. Angka yang disepakati itu meningkat 0,2% dari yang disusun pemerintah dalam RAPBN 2021 sebesar 5,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari kesepakatan itu pula pemerintah diminta untuk menjaga disiplin fiskal meski defisit diperlebar. Sumber pendanaan pada pembiayaan defisit disepakati harus berasal dari refocussing anggaran pemerintah dan bukan menambah utang yang telah dianggarkan.
Baca juga : Bank BJB Bantu UMKM Upgrade Warung Menjadi Lebih Modern
Josua bilang, kesepakatan untuk memperlebar defisit itu harus didasari pada upaya pemerintah untuk mengungkit perekonomian domestik baik dari sisi permintaan maupun produksi.
"Namun demikian, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 diperkirakan berkisar 3%-4% dan kecenderungan downside risknya didorong oleh kualitas penangangan covid-19 serta produktivitas dari stimulus ekonomi yang digelontorkan oleh pemerintah yang akan mendorong seberapa cepat pemulihan ekonomi," jelas Josua.
Kesepakatan memperlebar defisit APBN 2021, ditengarai karena penerimaan perpajakan diasumsikan menurun atau lebih rendah dari yang dipatok dalam RAPBN 2021. Penerimaan negara diperkirakan lebih rendah Rp32,7 triliun dari sebelumnya menjadi Rp 1743,6 triliun, sementara belanja negara mengalami kenaikan hanya mengalami kenaikan sebesar Rp2,5 triliun.
"Penurunan penerimaan ini didorong oleh penurunan target penerimaan perpajakan, yang berarti bahwa pemerintah memproyeksikan bahwa pertumbuhan penerimaan relatif rendah dibanding perkiraan sebelumnya. Hal ini terjadi karena masih banyaknya sektor usaha penyumbang pajak yang belum dapat pulih sepenuhnya pada tahun 2021," terang Josua.
"Di sisi lain, dari sisi pengeluaran, usaha pemerintah untuk mempertahankan PEN dengan komposisi yang serupa dengan tahun ini patut diapresiasi karena hal ini menunjukan keseriusan pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi melalui sektor konsumsi," pungkasnya. (OL-7)
Melalui PEN pemda, PT SMI berperan sebagai alat countercyclical pemerintah untuk menanggulangi dampak perubahan situasi ekonomi yang signifikan seperti pandemi covid-19.
Ketiga tersangka dugaan korupsi pembangunan ruas jalan itu yakni Kuasa Direktur CV Lembata Jaya berinisial LYL, Pejabat Pembuat Komitmen berinisial AP, dan konsultan pengawas, YM.
KPK menahan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Muda Laode Gomberto. Dia merupakan tersangka kasus dugaan suap pengajuan dana pemulihan ekonomi nasional daerah (PEN) covid-19
Penyaluran sebesar Rp628,44 miliar ini dengan capaian 78,42 persen dari total dana desa untuk Kaltim yang sebesar Rp777,27 miliar.
Pelaku UMKM dituntut untuk adaptif terhadap perkembangan zaman melalui inovasi dan kreasi digital.
Hasil pemeriksaan saksi, KPK mengungkapkan tersangka meminta suap agar bisa mencairkan dana PEN Kabupaten Muna.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan mengubah batas defisit anggaran sebesar 3 persen, meskipun menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Lemahnya pengawasan terlihat dari tidak adanya upaya menelusuri pemegang saham maupun perusahaan afiliasi dari wajib pajak tersebut.
Justru di tengah kondisi shortfall penerimaan pajak, langkah bersih-bersih semacam ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan publik.
Boyamin menilai kondisi ini juga membuktikan bahwa reformasi perpajakan yang selama ini digaungkan pemerintah gagal menyentuh akar persoalan dan lebih bersifat kosmetik.
Tekanan fiskal yang dihadapi saat ini tidak semata bersifat siklikal, melainkan mulai menunjukkan karakter struktural, terutama dari sisi penerimaan negara yang belum sepenuhnya pulih.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved