Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat, nilai ekspor di Sulsel, pada Juni 2020 mengalami peningkatan 1,66 persen, sekitar US$93,15 juta dibanding bulan sebelumnya yang hanya US$ 91,63 juta. Dan itu yang dikirim melalui Pelabuhan di Sulsel.
Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah mengungkapkan komoditas yang diekspor yaitu nikel, garam, belerang dan kapur, biji-bijian berminyak dan tanaman obat, ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya, serta lak getah, dan damar.
"Sebagian besar ekspor pada Juni lalu itu, dikirim ke Jepang, Tiongkok, Filipina, Amerika Serikat, dan Taiwan, dengan proporsi masing-masing 68,01 persen, 18,96 persen, 3,32 persen, 1,79 persen, dan 1,68 persen," ungkap Yos.
Meski demikian, kata Yos, nilai ekspor yang dikirim melalui pelabuhan Sulawesi Selatan pada Juni 2020 itu, tidak selaras dengan, capaian Juni tahun sebelumnya, tercatat mengalami penurunan sebesar 2,48 persen dari kondisi bulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 95,52 juta.
Yos juga menambahkan, nikel merupakan komoditas dengan nilai ekspor terbesar dari Sulsel Juni lalu, dengan nilai sebesar USD 60,57 juta atau 65,02 persen, disusul kelompok komoditas garam, belerang dan kapur sebesar US$ 7,74 juta atau 8,31 persen, lalu biji-bijian berminyak dan tanaman Obat sebesar USD 6,86 juta atau 7,37 persen, ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya sebesar US$ 3,83 juta atau 4,12 persen, serta lak, getah, dan damar sebesar US$ 3,59 juta atau 3,85 persen dari total nilai ekspor Sulsel.
Bila dibandingkan Mei 2020 maka ekspor komoditas nikel mengalami peningkatan sebesar 14,58 persen, garam, belerang dan kapur naik 83,68 persen; biji-bijian berminyak dan tanaman obat turun sebesar 42,12 persen, Ikan, udang dan hewan air tidak bertulang belakang lainnya turun 12,21 persen, serta lak, getah, dan damar meningkat sebesar 3,35 persen.
Berdasarkan pelabuhan yang memuat ekspor terbesar di Sulsel pada Juni 2020 yaitu, Pelabuhan Malili dengan nilai US$ 60,57 juta arau 65,02 persen, disusul Pelabuhan Makassar dengan nilai US$ 21,20 juta atau 22,76 persen, dari total nilai ekspor.
Terpisah, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengakui jika pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan pertama bertumbuh positif, padahal Maret April, Mei Juni itukan puncak pandemi, dan sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
"Satu hal yang kita liat dampak Covid-19, menjadikan daya beli masyarakat dan perdagangan turun. Tapi yang menggembirakan pertanian
kita tumbuh 24 persen. Termasuk ekspor kita juga naik," aku Nurdin. Bahkan Nurdin menjelaskan, jika memang pertumbuhan ekonomi Sulsel juga terkoreksi, karena yang berkontribusi besar itu dua, yaitu perdagangan dan konstruksi, makanya kita terkoreksi minus 4 jadi tinggal 2 persen. (OL-12)
Harga garam di tingkat petani melonjak dari sebelumnya Rp1.200 per kilogram meningkat menjadi Rp2.600 per kilogram.
Kontribusi Jatim belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petambak dan pembudidaya. Ketiadaan HPP untuk garam dan ikan membuat harga sangat fluktuatif.
Garam memiliki potensi nilai tambah yang jauh lebih besar dari sekadar bahan konsumsi rumah tangga. Garam dapat dikembangkan jadi bahan baku kosmetika, farmasi, industri, dan baterai.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membuka keran impor untuk sejumlah komoditas strategis, beras, jagung, gula konsumsi, dan garam.
Dokter jelaskan alasan bayi di bawah 1 tahun tak boleh diberi garam, gula, atau madu. Simak penjelasan medis dan pilihan makanan aman.
Ia menekankan pentingnya kombinasi antara investasi teknologi, pembangunan infrastruktur, regulasi yang berpihak pada petambak.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Industri penunjang minyak dan gas (migas) dalam negeri semakin menunjukkan peran strategisnya.
Holding UMKM Expo 2025 bertema "Ekosistem Bisnis UMKM Kuat, Siap Menjadi Jagoan Ekspor” menjadi wadah yang sangat baik untuk perkembangan UMKM.
Nilai ekspor non-migas Jawa Barat pada periode Januari hingga Oktober 2025 telah menyentuh angka USD 32,01 miliar.
Delapan perusahaan asal Jawa Timur ambil bagian dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Serentak yang dipimpin Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri.
Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi produk Malaysia karena kedekatan budaya, selera, dan preferensi konsumen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved