Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo menyatakan kekesalannya terkait dengan neraca perdagangan yang kembali mengalami defisit. Ia menyebut berulangnya defisit tersebut lantaran ada pihak-pihak yang lebih senang mengimpor dan menghambat transformasi ekonomi dalam negeri, khususnya di sektor energi.
"Ada yang hobinya impor karena untungnya gede. Sehingga transformasi ekonomi di negara kita mandek gara-gara ini. Kita berpuluh-puluh tahun memiliki masalah besar yang namanya defisit neraca perdagangan gara-gara impor kita lebih besar dari ekspor kita," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/12).
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 tercatat defisit US$1,33 miliar. Defisit itu berasal dari ekspor November yang sebesar US$14,01 miliar, sedangkan impornya lenih tinggi yakni US$15,34 miliar.
Dalam acara Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional RPJMN 2020-2024 itu, Jokowi menyoroti impor minyak yang per hari mencapai 700.000-800.000 barel.
Baca juga: Jokowi Kesal Pembangunan Kilang Minyak Hanya Janji
Dia juga menyoroti impor avtur untuk keperluan dalam negeri. Padahal, imbuhnya, crude palm oil (CPO) dalam negeri bisa dimanfaatkan untuk produksi avtur. Impor yang besar di sektor energi itu, imbuh Jokowi, jelas membebani transaksi berjalan yang mengakibatkan defisit.
"Sumur-sumur minyak kita itu masih banyak kok. Kenapa enggak digenjot produksinya. Avtur masih impor padahal CPO bisa dipindah menjadi avtur. Karena ada yang masih senang impor minyak. Ini ndak benar ini," tegas Jokowi.
Tak hanya sampai di situ, Jokowi juga mengungkapkan kekesalannya soal impor gas. Menurut dia, batu bara di Indonesia yang melimpah semestinya bisa dimanfaatkan untuk produksi gas. Namun, Indonesia juatru masih bergantung pada impor untuk pemenuhan kebutuhan gas.
Jokowi menyebut ada pihak-pihak yang mencari bermain dan mencari untung agar ketergantungan impor migas tersebut terus berjalan. Ia mengingatkan agar jangan ada pihak-pihak yang menghalangi upaya menggilangkan ketergantungan impor migas tersebut.
"Sudah ketemu siapa yang senang impor dan saya mengerti. Perlu saya ingatkan hati-hati kamu, saya ikuti kamu. Jangan menghalangi orang ingin membikin batu bara menjadi gas hanya gara-gara kamu senang impor gas," tukas Jokowi.(OL-4)
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan respons cepat dalam menghadapi dua situasi darurat di perairan lepas pantai Jawa Barat dalam kurun sepekan.
Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Onshore Processing Facility (OPF) Saka Indonesia Pangkah Limited (PGN SAKA) di Gresik.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
SKK Migas menegaskan komitmennya memperkuat penggunaan barang dan jasa dalam negeri di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved