Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi 2020 tak banyak berubah, berkisar 5,1% - 5,5%, karena situasi global yang masih suram. BI pun bersiap kembali turunkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate jika diperlukan.
"Ekonomi global masih gloomy (suram). Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) tahun 2020 diproyeksi hanya 2% atau lebih rendah dibandingkan proyeksi 2019 sekitar 2,3% Tiongkok tahun depan juga diproyeksi 6% atau lebih rendah dibanding proyeksi tahun ini 6,3%. Situasi ini masih memengaruhi ekonomi secara global di tahun depan," papar Endy Dwi Tjahjono, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia, dalam diskusi dengan wartawan moneter di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (9/12).
Semua negara, sambungnya, saat ini terus memantau perkembangan perang dagang AS-Tiongkok. Berbagai proyeksi terus dikoreksi lantaran maju-mundurnya rencana kesepakatan damai dua raksasa ekonomi dunia itu.
"Sempat muncul optimisme saat melihat adanya potensi kesepakatan damai AS-Tiongkok. Tapi mentah lagi jika melihat dukungan AS terhadap isu imigran dan demonstran di HongKong. Semua prediksi kembali dikoreksi. Ini jadi menurun dari 2018 yang tumbuh 3,6%, kini cuma 3,0%,” ujar Endy.
Kendati demikian, sambungnya, pertumbuhan ekonomi nasional di tahun depan masih tetap dibayangi optimisme. Besarnya jumlah konsumsi rumah tangga jadi tulang punggung menghadapi resesi ekonomi.
"Penopang ekonomi tahun depan masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Di tengah gloomy-nya ekonomi global akibat perang dagang AS-Tiongkok, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah masih jadi andalan," terangnya.
Apalagi, kata Endy, pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 diproyeksikan sebesar 3,1% atau lebih tinggi dibanding tahun 2019 yang hanya 3%.
Namun jika ekonomi global tahun depan makin suram, lanjutnya, selaku pemegang otoritas moneter, BI akan kembali melonggarkan suku bunga acuan dengan tetap mempertimbangkan data-data ekonomi terbaru (data-dependent).
"Kalau mengatakan suku bunga masih turun, tetap data-dependent. Kalau memang perlu diturunkan, akan diturunkan. Stance masih longgar," ujarnya.
Sebagai catatan, BI sudah empat kali menurunkan suku bunga acuan sepanjang tahun 2019.
Bersikap wait and see
Di diskusi yang sama, Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom BNI, mengatakan tahun depan dibayangi sikap pengusaha yang 'wait and see'.
"Itu bisa dipahami tapi tidak akan baik jika terlalu lama menunggu. Pasalnya negara-negara tetangga yang akan memanfaatkan peluang pertumbuhan di tengah perang dagang ini," ujarnya. Ryan mencontohkan Vietnam yang berhasil mengambil kesempatan itu. Kecepatan dan kelihaian negara tersebut dalam mereformasi birokrasi di bidang ekonomi berhasil menggaet investasi asing.
“Karena itu butuh dorongan juga dari pemerintah untuk meyakinkan pelaku usaha untuk berani investasi,” paparnya.
Reformasi birokrasi di bidang ekonomi, sambungnya, demi menaikkan peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia (Ease on Doing Business/EoDB). (OL-8)
BANK Indonesia Solo sediakan uang baru untuk menyambut Lebaran 2026 sebanyak Rp4,59 triliun, yang layanan pelaksanaan penukaran untuk masyarakat, akan dimulai 23 Februari-13 Maret 2026.
Ingin tukar uang baru untuk Lebaran 2026? Simak panduan lengkap cara daftar di PINTAR BI, jadwal resmi, hingga syarat penukaran paket Rp5,3 juta. Cek linknya di sini!
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
BANK Indonesia (BI) mencatat lebih dari 36 persen volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara nasional berasal dari DKI Jakarta.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
LEMBAGA pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada Baa2 dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif pada 5 Februari 2026.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved