Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN laporan Bank Indonesia (BI), sampai dengan 3 Oktober 2019 tercatat aliran modal asing yang masuk (capital inflow) ke tanah air mencapai Rp192,6 triliun year to date.
Total capital inflow tersebut terdiri dari Rp137,9 triliun untuk SBN, sedangkan untuk saham sebesar Rp52,4 triliun dan sisanya obligasi, korporasi juga SBI.
Aliran modal asing yang terus masuk memang memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Di samping itu juga mempengaruhi nilai tukar rupiah yang makin membaik. Akan tetapi, arus modal tersebut dinilai masih rentan dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
"Investasi di financial asset ini rentan (vulnerable) bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang," kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto ketika dihubungi di Jakarta, Sabtu (5/10).
Menurutnya aliran portfolio investasi asing dalam financial asset seperti SBN akan mengikuti pola 'folowing to region that generate high return'. Artinya sepanjang ada prospek pertumbuhan ekonomi, kestabilan ekonomi negara dan sentimen positif lainnya maka investor akan masuk.
Namun saat muncul kondisi sebaliknya, investor asing pun akan dengan mudah keluar Indonesia dan memindahkan portfolio investasinya ke negara lain.
"Yang dibutuhkan Indonesia adalah lebih banyak menarik investor asing di sektor riil (foreign direct investment/FDI)," kata dia.
Dijelaskannya lebih lanjut, kata Toto, investasi di sektor riil akan lebih menjamin pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, apabila terjadi permasalahan ekonomi secara global, hal tersebut tidak langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik.
Namun, diakuinya regulasi yang masih rumit menjadikan Indonesia bukan sebagai negara tujuan utama investasi sektor riil.
"Ini agak problem karena dibandingkan kompetitor di ASEAN (Vietnam, Thailand, Malaysia) maka posisi (penanaman modal langsung) Indonesia saat ini tertinggal di belakang", tambahnya.
Baca juga: Asing masih Tertarik Berinvestasi
Sementara menurut laporan World Bank September 2019, Indonesia tidak menjadi pilihan utama investor asing. Hal itu dipicu kelemahan terkait regulasi/insentif investasi, ketersediaan infrastruktur industri dan kekurangan suplai SDM trampil.
Adapun aliran dana ke sektor aset-aset finansial (financial asset) saat ini menunjukan masih adanya kepercayaan investor asing atas prospek perekonomian Indonesia.
"Karakteristik SBN yang risk free mendominasi minat asing karena tingkat suku bunga yang kompetitif dan kepercayaan investor atas prospek dan kestabilan ekonomi negara," tuturnya.
Pengaruh perang dagang AS - Tiongkok juga dinilai berdampak pada sentimen investor. Munurutnya investor akan mencari investasi yang lebih aman dan return yang relatif tinggi.
"Situasi saat ini menunjukkan Indonesia sebagai emerging market masih dipercaya oleh investor," pungkasnya. (A-4)
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus memantau dinamika pasar keuangan secara cermat dan merespons secara tepat guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah konflik Timur Tengah.
ESKALASI konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat ke Iran memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.
BI bersama perbankan membuka 359 titik layanan penukaran di 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat, termasuk 285 loket perbankan.
Bank Indonesia siapkan strategi atasi credit gap perbankan lewat insentif KLM Rp427,5 triliun dan penurunan BI-Rate untuk dorong kredit menganggur Rp2.506 T.
KANTOR Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyiapkan uang kartal sebesar Rp2,86 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melakukan penukaran uang menjelang Lebaran 2026.
Penukaran uang baru BI 2026 tidak dapat diwakilkan. Simak syarat terbaru, jadwal periode 2, dan cara daftar di aplikasi PINTAR BI agar tidak kehabisan kuota.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved