Sabtu 05 Oktober 2019, 08:50 WIB

Asing masih Tertarik Berinvestasi

Faustinus Nua | Ekonomi
Asing masih Tertarik Berinvestasi

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Gubernur BI Perry Warjiyo.

 

BANK Indonesia mencatat aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sejak awal 2019 sampai dengan 3 Oktober 2019 mencapai Rp192,6 triliun (year to date) dan Rp3,14 triliun untuk week to date.

Ini menunjukkan adanya keberlanjutan aliran modal asing ke Tanah Air yang juga ikut menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih tertarik dengan perekonomian Indonesia. Sekaligus membuktikan bahwa imbal hasil keuangan domestik dan prospek ekonomi tetap menarik sehingga berimbas pada stabilitas nilai tukar rupiah meskipun otoritas moneter telah menurunkan suku bunga acuan secara beruntun dalam tiga bulan terakhir.

"Salah satu faktor dari stabilitas nilai tukar ialah berlanjutnya aliran modal asing yang masuk. Di samping juga ada faktor mekanisme pasar dan supply-demand yang bekerja sangat baik. Ini tentu saja kepercayaan terhadap ekonomi kita sekarang dan ke depannya sehingga rupiah bergerak stabil di kisaran 14.170," kata Perry di Jakarta, kemarin.

Selain itu, ujar Perry, fundamental ekonomi Tanah Air sebagai salah satu negara berkembang masih prospektif di tengah gejolak yang melanda perekonomian global, yang disusul era pelonggaran kebijakan moneter negara-negara di dunia.

Menurut BI, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sebesar Rp192,6 triliun tersebut terdiri atas Rp137,9 triliun masuk ke instrumen surat berharga negara (SBN), sedangkan untuk saham sebesar Rp52,4 triliun. Sisanya masuk obligasi korporasi dan sertifikat Bank Indonesia (SBI).

"Kalau saham memang floating, keluar-masuk, karena banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor global yang terjadi di Amerika Serikat dan juga negara lain," imbuh Perry.

Sementara untuk aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dalam kategori week to date, Perry mengatakan hingga 3 Oktober 2019 portofolio SBN tercatat Rp3,14 triliun.

"Namun, terjadi outflow atau aliran modal asing keluar di saham 0,84% sehingga net inflow-nya Rp2,34 triliun," katanya.

Sementara itu, Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra mengemukakan penguatan nilai tukar rupiah dipicu pula oleh meningkatnya ekspektasi pasar atas pemangkasan kembali suku bunga acuan Bank Sentral AS di sisa tahun, menyusul masih lemahnya perekonomian AS.

 

Perlu waspada

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan aliran modal masuk yang deras memang dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Sebenarnya arus modal masuk masih deras sampai bulan Juli. Aliran modal masuk mampu menjaga rupiah di kisaran 13.900-14.100, relatif lebih stabil jika dibanding dengan tahun 2018," kata Bhima kepada Media Indonesia, kemarin.

Bhima menyebut asal aliran dana paling banyak masuk dari negara maju, seperti Eropa, AS, Jepang, atau Singapura ke surat utang pemerintah dan saham.

Akan tetapi, Indonesia perlu waspada. Pasalnya, pascaadanya tekanan isu resesi ekonomi dan perang dagang yang terus berlanjut, banyak investor khawatir dan memutuskan memindahkan sementara aset mereka dari negara berkembang.

"Kondisi memburuk karena adanya instabilitas politik dengan adanya demonstrasi penolakan beberapa RUU," ujarnya. (Ata/Ant/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More