Rabu 24 Juli 2019, 19:01 WIB

Perpres Mobil Listrik Beri Banyak Insentif ke Industri

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Perpres Mobil Listrik Beri Banyak Insentif ke Industri

MI/Susanto
Menkeu Sri Mulyani

 

MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Presiden Joko Widodo akan meneken dua peraturan di bidang otomotif, yaitu Rancangan Peraturan Presiden (RPP) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai dan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang PPnBM Kendaraan Bermotor.

"Presiden pada minggu ini akan tanda tangan dua kebijakan yang sangat penting bagi industri otomotif," kata Sri Mulyani di saat menyampaikan keynote speech pada acara Gaikindo International Automotive Conference di GIIAS 2019, Tangerang Rabu (24/7).

Baca juga: Kementerian BUMN Pertimbangkan Modal Tambahan untuk PT Pos

Dua regulasi ini akan berlaku dua tahun setelah diundang-undangkan. Poin-poin dari kebijakan tersebut antara lain menyediakan insentif fiskal untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (BEV).

Insentifnya berupa, pengubahan peraturan pajak barang mewah (PPnBM). Pajaknya, jelas Sri, tidak lagi ditentukan dari ukuran mobil.

"Kami mengelompokkan menjadi 3 size saja, di bawah 3000 cc, antara 3000 cc - 4000cc dan di atas 4000 cc," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.  

Regulasi itu juga akan memberikan tax holiday bagi kendaraan listrik yang terintegrasi dengan baterai. Sedangkan kebijakan tax allowance berlaku bagi industri suku cadang.  Bea masuk, sambung Sri, ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik yang mendapatkan fasilitas, juga bahan bakunya. Serta kemudahan impor untuk tujuan ekspor.

Insentif juga akan diberikan bagi yang membangun infrastruktur, seperti stasiun pengisian listrik umum (SPLU), berupa bantuan pengadaan modal kerja.

"Saya harap dengan insentif ini bisa mencapai 1 juta ekspor mobil. Kami harap PP dan Perpres ini akan menciptakan insentif bagi industri oto yg kompetitif berbasis listrik," imbuhnya.

Sri Mulyani optimistis payung hukum dan insentif terbaru dari pemerintah mampu mendongkrak angka ekspor mobil dari target 250 ribu menjadi 500 ribu unit

Di sisi lain, sambungnya, lahirnya dua regulasi itu membuat peraturan emisi semakin ketat. Artinya kendaraan beroktan tinggi harus sudah mulai berganti ke mobil beremisi rendah.

"Ini momentum untuk membangun kendaraan hybrid, plug in hybrid, battery electric atau fuel cell. Sebab menjadi tantangan untuk produksi industri otomotif yang lebih ramah lingkungan," pungkasnya. (OL-8)

 

Baca Juga

MI/Reza Sunarya

Inflasi Beras Mulai Melemah

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 01 Desember 2022, 16:54 WIB
Badan Pusat Statistik melaporkan adanya pelemahan inflasi pada komoditas beras. Inflasi beras pada November 2022 tercatat 0,37%, lebih...
Dok.BCA

BCA Luncurkan Reksa Dana Manulife Obligasi Unggulan Kelas A

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 01 Desember 2022, 16:45 WIB
PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) bersama PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menawarkan reksa dana pendapatan tetap Manulife...
Antara/Yulius Satria Wijaya.

Sejarah Harbolnas serta Tips untuk Penjual dan Pembeli

👤Meilani Teniwut 🕔Kamis 01 Desember 2022, 16:32 WIB
Hari diskon besar-besaran ini sering disebut dengan Hari Belanja Online Nasional...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya