Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Efek Pembangunan Infrastruktur Ciptakan Ekonomi Baru

Mediaindonesia.com
25/4/2019 22:33
Efek Pembangunan Infrastruktur Ciptakan Ekonomi Baru
Pembangunan LRT Cawang-Dukuh Atas menjadi salah satu pembangunan infrastruktur di periode perdana Presiden Jokowi(Antara/Aditya Pradana Putra)

HASIL hitung cepat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang dirilis berbagai lembaga survei menunjukkan keunggulan petahana. Presiden Joko Widodo sudah hampir pasti terpilih kembali untuk menakhodai pemerintahan Indonesia lima tahun ke depan.

Terpilihnya kembali Jokowi seakan menjawab ekspektasi pelaku pasar yang bertindak wait and see sebelum pemilu diselenggarakan.

Kemenangan Jokowi ini dalam jangka pendek akan membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia, seperti pengulangan Jokowi Effect 2014.

Bahkan sebelum pilpres berlangsung, pasar merespons positif hasil survei elektibilitas capres yang menempatkan Jokowi unggul jika dibandingkan dengan Prabowo. Hal itu terlihat dari gerak penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal.

Setelah hitung cepat selesai dilaksanakan dan menunjukkan Jokowi unggul, rupiah menguat sebesar 82 poin (0,58%) pada level Rp14.003 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (18/4) pagi.

Baca juga : Pascapemilu, Aliran Modal Asing Masuk Rp73,28 Triliun

Indikator itu bukan segalanya, tetapi setidaknya menjadi barometer respons pasar yang positif atas hasil pilpres serta fenomena Jokowi Effect kedua.

Namun, tim ekonomi Presiden Jokowi perlu bergerak cepat dan hati-hati dalam melanjutkan kebijakan ekonomi, sehingga tidak terperangkap pada jebakan roda putar perekonomian yang sedang melemah, baik karena kondisi domestik maupun kondisi perekonomian global.

Ekonom Senior Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, langkah pemerintahan periode pertama Presiden Jokowi dalam membangunan infrastruktur terintegrasi, sudah tepat karena mampu menciptakan daerah-daerah ekonomi baru dan menggerakkan roda perekonomian di Indonesia dari Sabang hingga Merauke.  

"Sebagai prasyarat untuk menopang pertumbuhan, langkah itu sudah tepat," ujarnya.

Dia menilai, perekonomian Indonesia selama ini ditopang oleh faktor domestik terutama konsumsi dan investasi.

Untuk menggerakkan konsumsi, kata dia, hal paling utama yang mesti dibenahi dalam periode pemerintahan berikutnya adalah sektor manufaktur.

"Bagaimana industri yang dihasilkan ini dapat memenuhi atau terserap di pasar dalam negeri. Oleh karena itu, industri manufaktur harus digenjot, ujarnya.

Terkait investasi, Piter menilai masih banyak kendala yang mesti dibenahi, terutama jika ingin menarik investasi asing langsung (Foreign Direct Investment).

"Kendala tersebut antara lain permasalahan perizinan, pembebasan lahan, perburuhan, hingga ketersediaan bahan baku. Ini yang mesti dibenahi," ujarnya.

Seperti halnya Piter, ekonom Universitas Indonesia, Ari Kuncoro menilai pembangunan ekonomi, terutama infrastruktur yang dijalankan pemerintah sangat dirasakan manfaatnya, tidak hanya masyarakat kota besar tapi juga daerah-daerah lainnya.

"Mereka yang merasakan dampak infrastruktur itu bukan hanya kelas menengah perkotaan, tapi juga di desa-desa. Ingat, infrastruktur yang dibangun itu bukan cuma jalan, tapi juga air dan listrik," ujarnya. (RO/OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya