Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

The Economist Ramal Jokowi Menangi Pilpres 2019

Marcheilla Ariesta
05/4/2019 22:23
The Economist Ramal Jokowi Menangi Pilpres 2019
Capres nomor urut 01 Joko Widodo saat berkampanye di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (5/4)(Antara/Wahyu Putro)

CALON presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) diprediksi akan kembali memenangi bursa Pilpres 2019. The Economist Intelligence Unit menuturkan jokowi akan menang dengan dukungan dari mitra koalisinya.

Menurut The Economist, Jokowi harus terus fokus pada liberalisasi dari lingkungan bisnis. Dia juga harus secara bertahap membuka investasi asing.

"Reformasi big bang akan tetap sulit dipahami. Namun, jika Prabowo Subianto menang, dia akan menjadi nasionalis," tutur The Economist, dalam laporannya, Jumat 5 April 2019.

Mereka mengatakan Prabowo akan menjadi tantangan untuk bisnis asing dan perusahaan Indonesia dalam menjangkau pasar global. Selain itu, stabilitas fiskal Indonesia juga bisa terancam dengan rencana pemotongan pajak.

"Joko Widodo diprediksi mampu meneruskan masa jabatan dalam pemilihan 17 April karena dukungan yang akan ia terima dari partai-partai koalisi," kata mereka.

"Pemerintahan presiden saat ini telah memberikan stabilitas makro ekonomi dan peningkatan akses ke layanan kesehatan dan pendidikan," imbuh mereka.

Baca juga : Barisan Ormas Pemuda Siap Menangkan Jokowi-Ma'ruf

The Economist menambahkan, mantan gubernur DKI Jakarta itu juga membuat kemajuan bertahap dalam pengembangan infrastruktur. Prestasi Jokowi ini dinilai akan menambah dukungan untuknya.

Analis The Economist Intelligence Unit, Anwita Basu menuturkan Jokowi akan memastikan reformasi berkelanjutan terhadap lingkungan bisnis lima tahun ke depan. Meski demikian, ada beberapa risiko yang harus dihadapi Jokowi.

"Risiko utama bagi Jokowi adalah upayanya untuk menjangkau elemen-elemen dalam arus utama Islam konservatif serta kegagalannya memberikan perbaikan substansial dalam catatan hak asasi manusia," tuturnya.

Namun, menurut Basu, golongan muda dan minoritas pribumi akan berkurang antusiasmenya terhadap Jokowi. Hal ini berbeda dari Pilpres 2014.

"Jika lawan Jokowi adalah Prabowo Subianto, kebijakan Indonesia akan berubah menjadi populis," tegasnya.

Basu mencatat resep kebijakan Prabowo dapat mengancam stabilitas makroekonomi Indonesia. "Pendekatan proteksionisnya akan menghalangi investor asing," jelasnya.

Indonesia akan menggelar pesta demokrasi dalam beberapa hari ke depan. Pertarungan bursa pemilihan presiden kembali mengadu Jokowi dan Prabowo layaknya Pilpres 2014 lalu. (Medcom.id/OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya