Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Visi Kedaulatan Energi Jokowi-Amin Lebih Jelas

Cahya Mulyana
02/2/2019 11:15
Visi Kedaulatan Energi Jokowi-Amin Lebih Jelas
(MI/Ramdani)

PENGAMAT energi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi menilai pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin lebih realistis dan menjawab tantangan dalam mewujudkan kedaulatan energi dengan melanjutkan pencapaian kinerja saat ini. Sementara untuk kompetitornya, Prabowo-Sandi hanya mengusung penurunan harga BBM dan listrik yang tidak mudah direalisasikan.

"Kalau visi petahana, Jokowi-Amin dalam mencapai energi berkeadilan untuk mencapai ketersediaan (availability) dan keterjangkauan harga (affordable) dengan menekankan relokasi subsidi BBM dari subsidi konsumsi dialihkan ke kegiatan produksi, termasuk untuk membiayai infrastruktur dan bendungan," terangnya kepada Media Indonesia, Sabtu (2/2).

Menurut dia, penerapan visi paslon nomor urut 01 yang melanjutkan kebijakan tidak menaikkan harga BBM subsidi dan tarif listrik untuk menjaga daya beli dan inflasi. Kemudian melalui BBM satu harga berlaku di seluruh wilayah Indonesia untuk mencapai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Mencapai 100% rasio elektrifikasi, tidak hanya untuk rumah tangga, tapi juga bisnis dan industri. Pencapaian kedaulatan energi dengan mengambil alih pengelolaan Blok Madura, Blok Mahakam, Blok Rokan dan Freeport," jelasnya.

Baca juga: Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Sementara untuk pasangan nomor urut 02, lanjut dia, tidak dijelaskan visi energi dan langkahnya kecuali menginginkan harga BBM dan listrik turun.

"Saya tidak tahu visi energi nomor urut 02, kecuali mau menurunkan harga BBM dan tarif listrik. Penurunan keduanya tidak semudah membalikkan tangan karena banyak variabel eksternal yang uncontrolable yang bertumpu pada harga minyak dunia, penguatan US dollar, harga batu bara dunia. Janji untuk menurunkan harga BBM dan tarif listrik hanya sekedar janji yang sulit direalisasikan," pungkasnya.(OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya