Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPERTI halnya anjuran untuk menyikat gigi setiap hari agar menjaga kebersihan mulut, mengganti celana dalam yang bersih setiap hari juga sama pentingnya untuk menjaga kebersihan area genital.
Namun, banyak orang mungkin tidak mengetahui hal tersebut. Suatu survei di Inggris yang diikuti kurang lebih 2 ribu responden menyimpulkan bahwa 20% dari para responden pria mengganti celana dalam mereka hanya sekali dalam sepekan. Sebelumnya, pada 2019, suatu survei di AS mendapati bahwa ada 45% dari 2 ribu responden yang baru mengganti celana dalam mereka setelah dua hari atau lebih.
Padahal, jika kita kerap malas mengganti celana dalam setiap hari, akan berimbas pada area genital dan ujung-ujungnya bisa memengaruhi kesehatan. Berikut beberapa dampak buruk tidak mengganti celana dalam setiap hari, seperti dilansir dari situs kesehatan, Healthshots.
1. Berbau Tidak Sedap
Kotoran dan kelembapan yang menumpuk pada celana dalam sepanjang hari menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi bakteri, ragi, dan jamur yang sering kali terkontaminasi dengan kotoran dan urin.
Akumulasi penumpukan ini dapat menyebabkan bau busuk yang tidak hanya memalukan, tetapi juga sangat tidak sehat pada saat yang bersamaan.
2. Tumbuh Jerawat
Karena banyaknya keringat, kelembapan, kotoran dan minyak yang menumpuk, dan itu juga dalam jangka waktu yang lama, bisa tumbuh benjolan merah.
Pahami bahwa sama seperti halnya wajah, area genital juga harus tetap segar dan bersih jika ingin terhindar dari jerawat. Apabila tumbuh jerawat di area tersebut, tentu membuat Anda tidak nyaman.
3. Infeksi Jamur
Infeksi jamur adalah salah satu masalah paling umum dan sebagian besar disebabkan oleh praktik kebersihan yang tidak tepat. Infeksi semacam ini bisa menyebar jika memakai celana dalam kotor yang sama selama beberapa hari.
4. Alami Ruam
Tidak mengganti celana dalam setiap hari dapat membuat kulit Anda iritasi, meradang, dan sensitif karena kelembapan berlebih sehingga menyebabkan ruam. Ruam pada area genital tentu membuat aktivitas sehari-hari menjadi sulit.
Seberapa Sering Harus Mengganti Celana Dalam?
Secara umum, kamu harus mengganti pakaian dalam setiap hari untuk mencegah masalah kesehatan di area genital.
Tak hanya itu, Dr Deepa Dewan, Direktur Asosiasi & Kepala Unit Kebidanan dan Ginekologi, Max Hospital, Gurgaon, India juga menuturkan ada beberapa kondisi tertentu yang membuat Anda harus lebih sering mengganti celana dalam satu hari. Misalnya, bagi perempuan, saat tengah mengalami menstruasi. Atau, ketika ada kondisi dan atau situasi yang membuat kita berkeringat.
“Jika Anda pergi ke gym dan banyak berkeringat di sana, Anda harus mengganti celana dalam tersebut,” sarannya. (M-2)
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
KEBIASAAN kurang bergerak atau duduk terlalu lama saat bekerja alasan mengapa bahu, leher, atau punggung terasa sakit. 7 gerakan peregangan meredakan punggung bawah.
Peran brand dalam sektor kesehatan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gaya hidup sehat.
Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal
ISPA tidak menyerang semua orang dengan dampak yang sama. Terdapat kelompok tertentu yang jauh lebih berisiko mengalami kondisi ini.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Infeksi cacing secara kronis dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari segi kuantitas maupun bobot telur.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Pada pasien anak yang dirawat inap akibat radang paru akut (pneumonia), ditemukan bahwa mereka yang mengalami gejala berat, sering kali memiliki lebih dari satu patogen di dalam tubuhnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved