Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Kondisi polusi udara di wilayah Jabodetabek kian mengkhawatirkan. Selain menerapkan gaya hidup sehat seperti makan makanan bergizi, olahraga, tidak merokok, dan lain sebagainya, penggunaan masker juga sangat penting saat kita beraktivitas di luar ruangan agar tidak mudah terpapar polusi.
Dokter Spesialis Pulmonologi, Prof. Dr. Menaldi Rasmi, Sp.P(K), FCCP mengatakan jarak pandang menjadi salah satu cara sederhana untuk melihat bagaimana tingkat polusi udara yang terjadi.
"Kita pakai ukuran sederhana saja yaitu jarak panjang. Karena jarak pandang sudah bisa kira-kira menggambarkan bagaimana polusi yang terjadi," katanya, saat ditemui Media Indonesia usai acara Health is the new luxury: navigating respiratory wellness in the current urban landscape, yang digelar oleh Verde Two di Verde Two Apartment, Jakarta Selatan, Kamis (7/9).
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menggunakan masker sesuai jenisnya?
Prof Menaldi menjelaskan sebelum memilih masker yang cocok sesuai jenisnya, kita harus mengukur terlebih dahulu bagaimana tingkat polusi udara yang ada di lingkungan kita berada.
"Kalau kurang dari 4 km kita udah gak bisa lihat, itu berarti polusi udara yang sudah berat. Nah buat orang-orang yang punya gangguan atau penyakit seperti sakit jantung atau tekanan darah tinggi jangan keluar rumah karena polusi akan memperberat penyakitnya. Polusi yang masuk tadi kan justru makin mengganggu kesehatan," ungkap Prof Menaldi.
"Tapi kalau dia orang yang sehat, dia masih bisa keluar berkegiatan dengan bebas tetapi dengan memakai masker N95. Agar partikel yang masuk yang kesedot di hidung itu sekecil-kecilnya partikel," lanjutnya.
Tak hanya itu, ia juga menyebutkan kapan waktu yang tepat untuk pemakaian masker bedah.
"Untuk orang yang sehat, antara 4-15 km dia bisa lihat, dia pakai masker biasa yang masker bedah itu gak apa-apa," jelas Prof Menaldi.
Sementara itu, jarak pandang sejauh lebih dari 15 km tidak perlu memakai masker. "Tapi kalau dia masih bisa lihat lebih dari 15 km dia gak pakai masker, juga gak apa-apa. Katakanlah dia mau jalan ke arah puncak, di jalan tol gunung sama dia kelihatan artinya gak apa-apa gak pakai masker," papar Prof Menaldi.(M-3)
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pengendalian polusi udara yang dilakukan secara terukur, berbasis data, serta didukung kolaborasi antar daerah.
Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus dapat memicu penyakit kronis hingga mematikan.
Aktivitas membakar sampah merupakan salah satu pemicu utama memburuknya polusi di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved