Selasa 29 November 2022, 14:16 WIB

Metode Memanggang Sudah Ada Sejak 780 Ribu Tahun Lalu

Devi Harahap | Weekend
Metode Memanggang Sudah Ada Sejak 780 Ribu Tahun Lalu

Dok. newscientist.com/ Ella Maru-University of Tel Aviv
Ilustrasi manusia purba memasak ikan

 

Temuan sisa-sisa gigi ikan mas purba di sebuah situs arkeologi bernama Gesher Benot Ya'aqov menunjukkan kemungkinan manusia telah mengenal metode memasak sejak 780 ribu tahun lalu. Manusia purba ternyata memasak makanannya dengan panas terkontrol menggunakan oven yang terbuat dari tanah ketimbang paparan api langsung.

Para peneliti sebelumnya menyebut manusia telah memasak daging sejak 1,5 juta tahun lalu. Hal itu berdasarkan penemuan sisa-sisa hewan yang hangus. Namun, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa manusia purba memasak makanannya, melainkan hanyalah tanda-tanda tidak langsung dari pembakaran. Bukti tersebut kemudian dianggap bukan tanda-tanda memasak yang jelas.

"Bukti sisa-sisa hangus itu bukan berarti memasak yang sebenarnya seperti saat ini, melainkan mereka hanya meletakkan makanannya ke dalam api," kata Irit Zohar dari Steinhardt Museum of Natural History di Tel Aviv, Israel seperti dilansir dari New Scientist, Senin, (28/11).

Bersama rekan-rekannya, Zohar meneliti permukiman berusia 780 ribu tahun di Gesher Benot Ya'aqov, tepatnya di lembah sungai Yordan, utara Israel. Di sana tidak terdapat sisa-sisa manusia purba. Namun, berdasarkan penemuan alat-alat batu, kemungkinan besar permukiman itu pernah dihuni oleh Homo erectus.

Di sana, para peneliti melihat gumpalan gigi ikan di sekitar area perapian yang pernah terbakar. Sebagian besar gigi tersebut milik spesies ikan yang dikenal karena gizi dan rasanya yang lezat, yaitu jordan himri dan jordan barbel. Para peneliti bertanya-tanya, apakah ikan tersebut dimasak dengan api kecil sehingga tulangnya lebih lunak dan rentan hancur, sementara giginya awet.

Lantas, Zohar dan timnya melakukan eksperimen dengan mengadaptasi teknik dari penyelidikan forensik manusia. Mereka menggunakan fraksi sinar X untuk mengungkap ukuran kristal di email gigi yang bervariasi sesuai suhu.

Mereka kemudian memanaskan ikan mas hitam sebagai pembanding pada suhu yang berbeda hingga 900 derajat celsius dan memeriksa ukuran kristal yang dihasilkan oleh gigi ikan. Mereka juga meneliti ukuran kristal dari fosil gigi jordan barbel usia 3,15 juta—4,5 juta tahun yang kemungkinan tidak pernah terpapar suhu tinggi.

Setelahnya, para peneliti mengumpulkan 30 gigi ikan dari puluhan ribu gigi yang ada di Gesher Benot Ya'aqov untuk membandingkan struktur email gigi dengan gigi yang diuji sebelumnya. Dari eksperimen tersebut mereka menemukan fakta gigi ikan dari pemukiman manusia purba memiliki pola struktur email yang menunjukkan ikan-ikan tersebut terpapar pada suhu 200—500 derajat celsius dan tidak terkena api secara langsung.

Menurut Zohar, manusia purba tidak hanya memakan ikan mentah, tetapi juga memasaknya di oven tanah. Hasil temuan itu membuktikan bahwa ikan mungkin dimasak utuh dalam oven tanah karena keberadaan tulang ikan hampir tidak ada di dekat sumber api.

"Ikan lebih bergizi, lebih mudah dicerna, dan lebih aman dimakan saat dimasak. Aktivitas memasak ikan dilakukan manusia purba memberikan bukti kemampuan kognitif mereka yang maju yang lebih besar daripada yang diyakini oleh peneliti sebelumnya," kata Zohar.

Sementara itu, Don Butler dari University of Alaska Fairbanks menyatakan, sulit memastikan apa sebenarnya niat manusia purba memanaskan sisa-sisa tulang hewan itu. Juga ada kemungkinan bahwa gigi ikan yang terpapar panas suhu rendah tersebut dibuang ke api kecil atau yang jauh dari pusat api.

Senada dengan Butler, Martin Jones dari University of Cambridge menuturkan, penemuan tersebut bisa jadi bukti interaksi dini manusia dengan api. Namun, manusia menurutnya tidak rutin memasak hingga jauh setelahnya.

(M-4)

Baca Juga

Unsplash/Debby Hudson

Sikap Bersyukur Terbukti Membantu Meredakan Stres

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 30 Januari 2023, 17:05 WIB
Stres berlebih dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, meningkatkan morbiditas kardiovaskular, dan risiko penyakit jantung koroner....
123RF

Gangguan Kesehatan Akibat Zat Kimia pada Plastik Bisa Berlangsung Lintas Generasi

👤Nike Amelia Sari 🕔Senin 30 Januari 2023, 15:29 WIB
Materi plastik bisa berbahaya karena mengandung bahan kimia pengganggu hormon yang memiliki kaitan dengan beberapa penyakit kronis,...
 KOCA SULEJMANOVIC / AFP

Ada Apa dengan Hormon Cinta?

👤Adiyanto 🕔Senin 30 Januari 2023, 08:35 WIB
Para peneliti menyatankan kemungkinan besar oksitosin hanyalah bagian dari serangkaian faktor genetik yang mengendalikan perilaku...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya