Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa anak-anak yang menghabiskan kurang dari satu jam bermain gawai setiap hari dan terlibat dalam permainan tradisional setidaknya 15 menit sehari, memiliki perkembangan otak yang lebih baik daripada teman sebaya mereka. Ini bisa menjadi salah satu hal yang perlu diketahui oleh para orangtua untuk meningkatkan kecerdasan anak.
Bermain di luar atau dengan mainan tradisional akan meningkatkan pembuluh darah dan memperkuat koneksi neuron, memungkinkan anak-anak untuk lebih mudah mendapatkan perkembangan kognitif.
Sedangkan menatap gawai, tidak merangsang otak, dan diyakini mengencerkan korteks otak, yang berkontribusi mengatur pemikiran dan penalaran kritis.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Pediatrics ini menemukan bahwa anak usia dua tahun yang membatasi waktu menatap layar 60 menit dan terlibat dalam permainan tradisional setidaknya 15 menit sehari, mampu mengembangkan otak yang lebih baik daripada balita yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk gawai.
Mereka memiliki skor yang lebih tinggi daripada teman sebaya mereka untuk memori, rentang perhatian, pengambilan keputusan dan kemampuan multi-tasking.
Dalam studi ini, para peneliti dari University of Illinois Urbana-Champaign melihat data pada 356 balita di seluruh AS. Orangtua melaporkan aktivitas fisik anak-anak mereka setiap hari dan mencatat waktu mereka dalam menatap layar gadget melalui survei.
Mereka juga diminta untuk menilai memori anak, kemampuan untuk merencanakan dan mengatur pikiran mereka, mengelola respons emosional mereka, menahan diri dari perilaku impulsif, dan bertukar tugas.
Balita adalah periode sensitif perkembangan kognitif dan pertumbuhan otak yang cepat, yang berarti faktor-faktor seperti makanan, olahraga, dan waktu layar memainkan peran kunci, kata para peneliti.
"Fungsi eksekutif mendasari kemampuan Anda untuk terlibat dalam perilaku yang diarahkan pada tujuan," kata Naiman Khan, kinesiologi Universitas Illinois Urbana-Champaign dan profesor kesehatan masyarakat dan pemimpin studi, seperti dilansir dari dailymail.co.uk, Senin (3/10). (M-3)
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Merokok di dekat anak dapat memicu kerusakan organ tubuh secara menyeluruh, bahkan hingga menyerang sistem saraf pusat.
Kekurangan asupan nutrisi bukan sekadar masalah fisik atau tubuh yang terlihat kurus. Lebih jauh, ketidakseimbangan gizi dapat mengganggu struktur fundamental otak.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Udara malam yang dingin dikombinasikan dengan paparan polusi udara dapat merusak sistem pernapasan anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved