Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA pertengahan abad 14, wilayah Eropa, Asia, dan Afrika dilanda wabah penyakit mematikan. Puluhan jutaan orang tewas akibat penyakit yang diberi nama Black Death itu.Pandemi atau biasa disebut wabah pes atau sampar itu tercatat sebagai yang paling mematikan dalam sejarah dan masih menjadi misteri.
Namun, baru-baru ini para peneliti percaya mereka telah memecahkan misteri yang tentang asal-usul penyakit mematikan yang berlangsug sekitar 700 tahun lalu tersebut.
“Pada dasarnya kami telah menemukan asal mula dalam ruang dan waktu, yang benar-benar luar biasa,” kata Prof Johannes Krause dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, Jerman. “Kami tidak hanya menemukan nenek moyang Black Death, tetapi juga nenek moyang dari sebagian besar jenis wabah yang beredar di dunia saat ini,” imbuhnya seperti dikutip The Guardian, Kamis (16/6)
Tim peneliti internasional itu berkumpul untuk menguingkap teka-teki itu ketika Dr Philip Slavin, seorang sejarawan di Universitas Stirling, menemukan bukti lonjakan kematian yang tiba-tiba pada akhir 1330-an di dua kuburan dekat Danau Issyk-Kul, di utara wilayah yang sekarang disebut Kirgistan.
Di antara 467 batu nisan bertanggal antara 1248 dan 1345, Slavin melacak lonjakan kematian, dengan 118 batu nisan bertanggal 1338 atau 1339. Prasasti di beberapa batu nisan menyebutkan penyebab kematian sebagai "mawtānā", istilah bahasa Syria untuk "sampar".
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan situs kuburan tersebut telah digali pada akhir 1880-an, Ketika itu, sekitar 30 kerangka dikeluarkan dari kuburan mereka. Setelah mempelajari buku harian penggalian, Slavin dan rekan-rekannya menelusuri beberapa sisa tengkorak dan menghubungkannya dengan batu nisan tertentu di kuburan itu.
Penyelidikan kemudian diteruskan ke spesialis DNA kuno, termasuk Krause dan Dr Maria Spyrou di Universitas Tübingen di Jerman. Mereka mengekstrak materi genetik dari gigi tujuh individu yang dikubur di kuburan tersebut. Tiga di antaranya mengandung DNA dari Yersinia pestis, bakteri penyebab pes.
Analisis lengkap genom bakteri menemukan bahwa itu adalah nenek moyang langsung dari strain yang menyebabkan Black Death di Eropa delapan tahun kemudian dan, sebagai hasilnya, mungkin menjadi penyebab kematian lebih dari setengah populasi di benua itu di deakde-dekade berikutnya.
Menurut para ilmuwan kerabat terdekat dari strain itu sekarang ditemukan pada hewan pengerat di wilayah yang sama.
Untuk menghindari terinfeksi wabah pes, masyarakat modern saat ini diharuskan meningkatkan kebersihan dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan kutu tikus yang dapat menularkan infeksi ke manusia agar tidak terjadi wabah. (M-4)
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Peneliti simulasi wabah H5N1 pada manusia. Hasilnya, hanya ada jendela waktu sangat sempit untuk mencegah pandemi sebelum penyebaran tak terkendali.
ANCAMAN kesehatan global kembali muncul dari Tiongkok. Setelah virus corona yang menyebabkan pandemi covid-19, kali ini virus baru influenza D (IDV) ditemukan.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti mengatakan selama tidak ada deklarasi epidemi di daerah maka korban keracunan MBG akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Adanya hewan hidup dan hewan yang baru disembelih di area yang sama meningkatkan paparan cairan tubuh dan feses yang mengandung virus.
Ahli epidemiologi Michael Osterholm memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi pandemi mematikan berikutnya.
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
SERANGAN penyakit kutu air (balancat) dan diare mulai menyerang korban banjir di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kolesterol yang tinggi sering disebut sebagai silent killer dan dapat menjadi penyebab dari berbagai penyakit serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved