Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Perang di Ukraina beresiko tinggi meningkatkan pemanasan global dan mempercepat laju perubahan iklim dunia. Hal itu diungkapkan oleh Sekjen PBB, António Guterres, dalam sebuah konferensi virtual yang berpusat di London, Senin, (21/3), seperti dilansir dari theguardian.com, Selasa, (22/3),
Guterres mengatakan, serangan Rusia ke Ukraina dilakukan dengan mengerahkan teknologi perang yang sangat canggih dan modern. Seluruhnya tentu saja dijalankan dengan mengandalkan bahan bakar fosil berskala besar.
Hal itu diperparah dengan dampak pascaserangan. Di antaranya kebakaran, asap, hingga partikel-partikel dari senjata seperti misil.
“Serangan itu juga berpotensi pada berbagai hal termasuk pergerakan pasokan makanan dan sumber energi global. Semuanya berimplikasi pada kegagalan pemenuhan target bangsa-bangsa dunia menekan laju perubahan iklim,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Rusia merupakan salah satu pemasok bahan bakar gas terbesar bagi negara-negara Eropa. Dengan permasalahan yang ada saat ini pasokan gas dari Rusia juga terhambat.
Hal itu secara otomatis akan membuat negara-negara Eropa terpaksa kembali mengandalkan bahan bakar fosil lain yang lebih berdampak buruk bagi lingkungan untuk keperluan sehari-hari masyarakatnya. Seperti batu bara atau minyak bumi.
“Ini semua adalah kegilaan. Semuanya bisa berdampak pada kerusakan yang masih di skala global,” ujar Guterres.
Guterres mengatakan berharap akan segera ada titik terang untuk menyelesaikan yang terjadi di Ukraina saat ini. Ia juga berharap negara-negara di Eropa bisa membuat kebijakan yang tetap berpihak pada komitmen untuk menekan laju perubahan iklim dan menekan peningkatan suhu global tak lebih dari 1,5 derajat celcius lebih tinggi dari era pra industri pada 2030 mendatang.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved