Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi mengungkapkan terumbu karang di dunia akan tetap mengalami kehancuran secara total meski target menekan laju perubahan iklim yang disepakati dalam Perjanjian Paris tercapai.
Target 197 negara untuk menekan peningkatan suhu tak lebih dari 1,5 derajat celsius dibandingkan era pra-industri dinilai tak akan berdampak signifikan untuk menekan kerusakan terumbu karang. Sebanyak 99% terumbu karang di seluruh dunia akan tetap mengalami kerusakan permanen dengan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius tersebut.
Hal itu diketahui dari hasil studi tim peneliti yang dirilis dalam jurnal PLOS Climate. Mereka melakukan studi dengan menggunakan model seluas satu kilometer persegi. Dari studi tersebut juga ditemukan fakta bahwa ketika kenaikan suhu mencapai 2 derajat, dapat dipastikan seluruh terumbu karang di dunia akan hancur.
“Intinya adalah tak ada batas aman kenaikan suhu tertentu dari perubahan iklim bagi terumbu karang dan angka 1,5 derajat itu yang pasti masih terlalu tinggi,” ujar ketua tim penelitian yang berasal dari Universitas Leeds, Adele Dixon.
Seperti diketahui, sebelum menetapkan komitmen baru untuk menekan kenaikan suhu bumi maksimal 1,5 derajat celsius, seluruh negara peserta Perjanjian Paris menyetujui angka kenaikan maksimal 2 derajat celsius. Namun, fakta munculnya rangkaian tragedi akibat cuaca ekstrem, badai, banjir, hingga gelombang panas ketika terjadi kenaikan 1,1 derajat celsius saat ini, membuat komitmen diperbaharui menjadi hanya 1,5 derajat celsius hingga 2030 mendatang.
Pada 2018, lembaga panel iklim (The Intergovernmental Panel on Climate Change atau IPCC), memprediksi sebanyak 70--90% terumbu karang akan hancur ketika kenaikan suhu mencapai 1,5 derajat celsius. Hasil studi terbaru yang dirilis di jurnal PLOS Climate di awal tahun 2022 ini rupanya lebih suram dan membuat prediksi IPCC terkesan terlalu optimis.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ternyata terumbu karang terpengaruh perubahan iklim lebih buruk dari yang pernah dibayangkan sebelumnya,” ujar Dixon deperti dikutip AFP.
Peningkatan suhu air laut membuat proses pemulihan terumbu karang menjadi semakin sulit bahkan mustahil. Terumbu karang membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk bisa memulihkan diri dari kerusakan.
Pemulihan tersebut hanya akan berhasil ketika suhu air laut terjaga tak terus mengalami kenaikan. Selain itu laut juga harus terjaga dari polusi seperti sampah, bahan kimia, hingga aktivitas manusia yang memicu kerusakan.
Kenaikan suhu global yang terjadi akibat perubahan iklim dan diperparah dengan polusi di lautan telah memusnahkan setidaknya 14% terumbu karang yang ada di dunia pada periode 2009--2018. Sementara puluhan persen sisanya telah mengalami kerusakan atau yang dikenal dengan istilah belaching.(M-4)
Studi terbaru mengungkap sisi emosional hilangnya gletser dunia. Dari tujuan wisata "kesempatan terakhir" hingga ritual pemakaman es, bagaimana manusia merespons kepunahan gletser?
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Dua studi terbaru menunjukkan dunia kemungkinan besar telah melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak ingin terjebak dengan skenario kesepakatan iklim Perjanjian Paris atau Paris Agreement mengenai transisi energi.
Presiden AS Donald Trump pertama kali menarik AS keluar dari perjanjian iklim tersebut pada 2019.
Presiden Donald Trump kembali berjanji untuk menarik Amerika Serikat dari perjanjian iklim Paris, setelah sebelumnya mencabut keputusan serupa pada 2017.
Pemanasan global yang mencapai hampir 1,2C sejauh ini telah menimbulkan dampak mematikan yang semakin besar di seluruh dunia.
sektor bangunan dan konstruksi adalah penyumbang gas emisi yang sangat signifikan yakni mencapai 40% dari keseluruhan emisi karbon.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved