Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Polusi udara tak hanya berdampak jangka panjang menyebabkan penyakit seperti gangguan pernapasan. Paparan polusi udara di kota besar yang semakin sering dihirup oleh manusia ternyata juga berisiko merusak otak lansia.
Hal itu diketahui dari studi yang dipublikasikan pada laman penelitian kesehatan Nature Aging pada April 2021. Gabungan peneliti dari Amerika Serikat dan Tiongkok menghimpun hasil tes kognitif dari sebanyak seribu orang yang hidup di pusat kota Boston.
Seluruh responden merupakan lansia berusia di atas 65 tahun. Mereka sebagian tinggal di area yang mengalami polusi udara dengan keberadaan PM2,5 atau partikel udara yang memiliki lebar sekitar 2 sampai 1,5 mikron yang tinggi. Ukurannya 30 kali lebih kecil dibanding lebar rambut manusia. Itu merupakan salah satu partikel udara penyebab polusi yang paling membahayakan bagi kesehatan manusia.
Hasilnya, lansia yang tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah. Mulai dari kemampuan mengingat angka yang rendah, kemampuan mengingat arah yang rendah, hingga kemampuan bicara yang juga rendah.
Dampak itu sudah akan bisa dialami lansia apabila mereka mengalami paparan polusi dalam jangka pendek, setidaknya empat minggu berturut-turut.
“Penemuan ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi studi juga dari studi itu diketahui tak perlu waktu panjang dan tingkat polusi sangat tinggi untuk membuat seorang lansia mendapatkan dampak buruk polusi udara pada otaknya,” ujar Kepala Biological Neuropsychiatry and Dementia Research, Monash University, seperti dilansir theguardian.com, Selasa (4/5). (M-2)
Fokus diskusi mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari AI, Internet of Things (IoT), smart mobility, digitalisasi rantai pasok, hingga pengembangan keterampilan masa depan.
Prestasi ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong budaya inovasi yang berkelanjutan, memperkuat riset terapan, serta menghadirkan solusi teknologi.
Penderita Restless Legs Syndrome (RLS) memiliki risiko lebih tinggi terkena Parkinson dibandingkan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Riset ini bertujuan memberikan panduan bagi elit politik sekaligus edukasi bagi masyarakat mengenai kompetensi pemimpin yang benar-benar dibutuhkan di Indonesia.
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah, budaya hijau sekolah, dan motivasi intrinsik siswa memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku ramah lingkungan.
Penghargaan bagi peneliti muda menjadi instrumen penting dalam membangun ekosistem riset nasional yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Konsentrasi partikel halus () di Tangerang Selatan kerap melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Riset Northwestern University ungkap asap kayu di rumah menyumbang 20% polusi mematikan di AS.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved