Selasa 06 April 2021, 10:38 WIB

Kisah Corey dan Medali Olimpiade yang Diperebutkan

Adiyanto | Weekend
Kisah Corey dan Medali Olimpiade yang Diperebutkan

Philippe LOPEZ / AFP
Salinan foto Albert Corey, peraih dua medali perak di Olimpiade 1904

LEBIH dari seabad silam, tepatnya pada 1904, pelari jarak jauh Amerika Serikat, Albert Corey meraih dua medali perak pada Olimpiade yang dihelat di St Louis, Missiouri. Namun, setelah 117 tahun berselang, kini Prancis menginginkan dia dan medalinya kembali.

Seorang anggota dewan lokal di kota asalnya Meursault, Prancis kini sedang berusaha untuk meminta Komite Olimpiade Prancis membahas masalah status Corey dan medalinya tersebut dengan Komite Olimpiade Internasional.

Clement Genty, demikian nama anggota dewan tersebut, merupakan insinyur dan sejarawan yang juga peneliti di National School of Arts and Crafts (Ensam). Dia memiliki foto hitam putih yang telah pudar, di mana Corey terlihat mengenakan rompi tanpa lengan, celana pendek kusut, dan sepatu kulit bertali.

Corey, putra petani anggur Burgundi yang miskin ini, meraih apa yang seharusnya menjadi satu-satunya medali Olimpiade Prancis pada Olimpiade 1904.

“Kisah yang indah. Saya mengetahui keberadaannya di surat kabar dan melakukan beberapa penelitian."

Absen tanpa izin

Corey lahir di Meursault pada 1878, tahun di mana desa tersebut menjadi yang pertama di daerah Cote d'Or yang terkena phylloxera, salah satu jenis penyakit yang merusak tanaman merambat.

Etienne Corey, ayah Corey, yang petani anggur lalu pindah ke pinggiran kota Paris. Pada 1896, Albert Corey pun mendaftar sebagai tentara Prancis. Di kemiliteran dia menemukan bakatnya sebagai pelari jarak jauh. Dia memecahkan rekor lari 160km pada 1899.

Pada 2 Januari 1903, Corey absen tanpa izin dan menghilang. Setahun kemudian, dia muncul di Chicago dan bekerja di sebuah rumah jagal.

Sebagai pendatang, tidak mudah bagi Corey untuk menjadi atlet di AS. Apalagi bahasa Inggrisnya buruk. The Washington Times pada 1905 menulis, Corey persis seperti gelandangan.

Ketika mengetahui Olimpiade akan diadakan di Amerika, dia mengatakan kepada otoritas olahraga setempat bahwa dirinya pernah mengikuti "Paris Maraton" pada 1900. Upayanya berhasil dan dia pergi ke St. Louis mewakili First Regiment Athletic Association of Chicago.

Karena Olimpiade di St Louis sangat sulit dan mahal untuk dicapai dari luar Amerika Utara, tidak banyak peserta internasional. Corey menjadi satu-satunya orang Prancis. Tapi dia milik klub Amerika. "Karena itu dia dianggap orang Amerika, menurut aturan waktu itu," kata Genty kepada AFP.

Event ini merupakan Olimpiade pertama di mana medali emas, perak, dan perunggu diberikan.

Nomor maraton, yang diikuti Corey, diadakan di akhir Agustus yang terik di jalur berbukit dan berdebu, Ketika itu jarak yang harus ditempuh peserta sejauh 40 km, belum mengikuti standar seperti sekarang. Para pelari juga hanya diberi waktu sekali perhentian untuk mendapat air, sehingga lebih dari setengah dari 32 peserta, gagal finis. Corey finis di urutan ketiga, tapi dia akhirnya kebagian medali perak karena sang juara Fred Lorz, didiskualifikasi karena menumpang mobil. Medali emas akhirnya diberikan kepada pelari Amerika kelahiran Inggris, Thomas Hicks.

Selain di nompor Maraton, Corey juga meraih medali perak di nomor estafet 20 mil, meskipun ia tidak disebut sebagai orang Amerika  di nomor ini dan medali itu diberikan kepada tim 'campuran'.

Kisah lucu

Media AS tidak menganggap Corey orang lain selain bahasa Prancis-nya. Mereka memuji kisah sukses dari "orang Prancis" ini, sebagai seorang pekerja rumah jagal yang menjadi bintang baru Maraton.

Sejarawan Olimpiade telah lama mengklasifikasikan Corey sebagai orang Prancis tetapi medali maratonnya dianggap milik Amerika Serikat dan IOC tampaknya tidak mau mengubahnya.

Tawaran Corey untuk memenangkan medali lain di Olimpiade 1908 di London gagal, Namun, dia juga menolak ketika diminta untuk mewakili Prancis. Sebagai gantinya, dia ikut marathon di Chicago dan juara.  Setahun kemudian, Corey ditabrak mobil dan tidak pernah mendapatkan kembali performanya.

Dia kembali ke Prancis pada musim panas 1910 dan melanjutkan karier militernya. Dia meninggal pada 1926 di Paris, mungkin karena tuberkulosis.

Cicitnya, Serge Canaud, 69, baru tahu kalau moyangya seorang pelari setelah ditelepon Genty.

"Saya terkejut. Saya belum pernah mendengar tentang ini dalam keluarga kami: Amerika dan Olimpiade. Kami tidak tahu apa-apa tentang itu. Ini cerita yang lucu," katanya. (AFP/M-4)

Baca Juga

123RF/teen00000

Ini Kata Pakar Nutrisi agar Sukses Menjalankan Puasa Ramadan

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 13 April 2021, 05:06 WIB
Ini adalah beberapa tip agar tubuh mudah beradaptasi saat menjalankan ibadah puasa...
BAFTA/AFP

Vinterberg Dedikasikan Piala BAFTA untuk Anaknya

👤Fathurrozak 🕔Senin 12 April 2021, 10:35 WIB
Film Another Round garapan Thomas Vinterberg meraih film non berbahasa Inggris terbaik di BAFTA...
 AFP

Mengenang Gagarin, Manusia Pertama yang Menjelajah Luar Angkasa

👤Adiyanto 🕔Senin 12 April 2021, 10:16 WIB
Penyebab di balik kematian pria berusia 34 tahun itu tetap misteri, seperti kehidupan di atas sana yang pernah dijelajahinya lebih dari...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Salah Kaprah Salurkan Energi

Kenakalan remaja pada masa lalu hingga masa kini masih ada, bahkan semakin meninggi. Itu terjadi karena remaja sering kali mementingkan solidaritas grup.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya