Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAIRAN yang memanas sebagai dampak perubahan iklim telah mendorong ribuan spesies laut dari wilayah khatulistiwa ke daerah kutub. Hal ini mengancam ekosistem laut dan mata pencaharian orang-orang yang bergantung padanya.
Menurut para peneliti perbandingan data pada hampir 50.000 spesies selama tiga periode 20 tahun hingga 2015 mengungkapkan, eksodus sejumlah spesies dari perairan tropis semakin cepat.
Dalam laporan yang dimuat di jurnal PNAS itu, mereka menyatakan daerah tropis telah lama menyimpan proporsi kehidupan laut yang sangat besar, tetapi keanekaragaman dapat hilang jika perubahan iklim tidak diatasi.
"Pemanasan global telah mengubah kehidupan di lautan setidaknya selama 60 tahun," kata penulis senior Mark Costello, seorang profesor biologi kelautan di Universitas Auckland, kepada AFP, Senin (5/4).
"Temuan kami menunjukkan penurunan sekitar 1.500 spesies di ekuator. Ini akan berlanjut sepanjang abad, tetapi kecepatannya akan bergantung pada bagaimana kita mengurangi - atau tidak - emisi gas rumah kaca."
Migrasi sejumlah spesies ke kutub lebih terlihat di utara ekuator, tempat lautan menghangat lebih cepat daripada di belahan bumi selatan. Migrasi ini lebih umum terjadi di antara ikan yang hidup di perairan terbuka daripada yang disebut spesies bentik yang hidup di dasar laut.
“Spesies bentik hanya dapat bergerak selama tahap kehidupan terapung mereka, dan dengan demikian pergeseran mereka (kutub) terjadi antargenerasi,” jelas Costello.
“Sebaliknya, spesies yang hidup di laut lepas dapat bergerak bersama massa air selama hidupnya,” imbuhnya.
Studi tersebut juga menemukan, kehidupan laut di perairan tropis menurun ketika suhu laut rata-rata tahunan naik di atas 20 hingga 25 derajat Celcius, tergantung pada spesiesnya.
"Spesies tropis yang 'hilang' kemungkinan besar mengikuti habitat termal mereka saat perairan subtropis menghangat," kata rekan penulis David Schoeman, seorang profesor ekologi di Universitas Nelson Mandela di Port Elizabeth, Afrika Selatan.
Catatan fosil menunjukkan bahwa hal yang sama terjadi 140.000 tahun yang lalu, terakhir kali suhu permukaan global sepanas sekarang.
Menurut para peneliti, migrasi ini berdampak pada stok ikan di sejumlah negara tropis. "Indonesia dan negara-negara lain di dekat ekuator, seperti Afrika Barat, paling merugi karena stok mereka bisa berkurang, karena tidak ada spesies baru yang menggantikan spesies yang pergi,” kata Costello.
Di seluruh dunia, sekitar 1,3 miliar orang tinggal di daerah pesisir tropis, banyak di antaranya bergantung pada perikanan untuk makanan.
Sebuah artikel baru-baru ini di Nature memperkirakan potensi tangkapan maksimum dari stok ikan tropis di wilayah yang disebut zona ekonomi eksklusif - 200 mil laut (370 kilometer) dari pantai - akan menurun 40% pada pertengahan abad jika pemanasan global terus berlanjut. .
Di sebagian besar negara kepulauan Pasifik, tangkapan gabungan cakalang dan tuna sirip kuning - dua ikan yang paling banyak diekspor - akan turun hingga 40% , sementara ikan terumbu karang yang dikonsumsi secara lokal dapat menurun lebih banyak lagi.
Studi di PNAS dimulai dari disertasi doktoral Chhaya Chaudhary dari University of Auckland. (AFP/M-4)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Peneliti menemukan bahwa kenaikan kadar CO2 di atmosfer mulai mengubah kimia darah manusia, termasuk kenaikan bikarbonat yang signifikan.
Studi terhadap 5 juta kelahiran di Afrika dan India mengungkap tren mengejutkan, paparan panas saat hamil menurunkan jumlah bayi laki-laki yang lahir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved