Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
SESEORANG mungkin kadang berpikir masa lalunya jauh lebih baik dan lebih mudah jika dibandingkan sekarang. Hal tersebut merupakan cara yang dimainkan pikiran, terutama saat seseorang merasa lemah atau sedang dalam kesulitan.
Psikolog mengungkapkan ingatan seseorang tentang indahnya masa lalu bisa jadi bertentangan dengan fakta yang terjadi sebenarnya. Mark Travers, Ph.D, seorang psikolog menyebut, permainan pikiran itu jarang menilai secara objektif bahwa masa lalu seseorang memang lebih baik atau sebaliknya.
Travers menyebut pola pikir yang ‘cacat’ ini sebagai rosy retrospection, yaitu fenomena psikologis seseorang yang terkadang menilai masa lalu secara tidak proporsional, menganggap lebih positif jika dibandingkan masa kini.
Kata Travers, fenomena tersebut terjadi ketika seseorang berpikir tentang masa lalu akan cenderung berpikir tentang orang, peristiwa, tempat, dan hal-hal secara abstrak. “Dan, ketika seseorang berpikir tentang hal-hal secara abstrak, ia akan lebih cenderung fokus pada generalisasi positif daripada peristiwa detail yang mungkin tidak begitu baik,” seperti dilansir psichologytoday, Kamis (21/1).
Travers mengatakan, dengan kata lain, detail negatif tentang peristiwa masa lalu keluar atau dikesampingkan dari ingatan seiring berjalannya waktu, sementara aspek positif dari pengalaman masa lalu tetap ada.
"Jika ini terjadi, itu bagus. Karena itu akan membuat kita tetap dalam kerangka berpikir positif saat ini. Jika pikiran kita tidak bekerja seperti ini, kecil kemungkinan kita untuk pergi pada liburan yang sama tahun depan, atau terlibat dalam aktivitas lain yang penting untuk kesejahteraan psikologis kita," ungkap Travers.
Faktanya, kata dia, orang yang cenderung mengingat pengalaman negatif lebih banyak daripada pengalaman positif, cenderung menunjukkan gangguan mood seperti depresi. Dengan kata lain, rosy retrospection adalah bias kognitif dan memiliki tujuan penting.
Para peneliti menemukan bahwa optimisme paling rendah pada usia dua puluhan, kemudian meningkat secara bertahap melalui usia tiga puluhan dan empat puluhan, memuncak pada usia lima puluhan, dan secara bertahap menurun setelah itu. Studi lain menemukan bahwa kepuasan hidup di negara-negara Anglo seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Inggris, cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
"Dengan kata lain, ada bukti bagus yang menunjukkan bahwa hari-hari terindah Anda masih akan datang. Dan, meskipun tidak, tetap penting untuk berasumsi bahwa mereka memang benar. Jangan menghindar dari melihat masa lalu dengan tingkat kesukaan tertentu. Tapi, dengan cara yang sama/proporsional. Jangan pula gunakan masa lalu sebagai alasan untuk tidak bahagia di masa sekarang," tutupnya. (M-4)
Pendekatan yang terlalu keras atau sepihak untuk membatasi penggunaan medsos justru berisiko membuat anak memberontak.
Studi PISA dan data global menunjukkan kemampuan kognitif Gen Z menurun di beberapa aspek. Apa penyebabnya dan keunggulannya?
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Jangan keliru! Pahami perbedaan antara emophilia (mudah jatuh cinta) dan love bombing (taktik manipulasi) agar terhindar dari hubungan toksik.
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Profesor dari Indiana University, Gabriel Filippelli, mengungkapkan bahwa terdapat bukti dengan menggunakan sepatu di dalam rumah dapat meningkatkan penyebaran kuman di rumah.
Pelayaran jarak jauh ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ujian nyata bagi kesiapan teknis kapal KRI Canopus-936 dalam menghadapi berbagai kondisi laut internasional.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved