Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan dari Belanda baru-baru ini dikabarkan telah menemukan organ baru di tenggorokan manusia. Mulanya, mereka tengah memindai kanker pada pasien dan secara tidak sengaja menemukan satu set kelenjar di bagian atas tenggorokan.
Organ baru tersebut kemudian mereka sebut dengan 'kelenjar ludah tubarial'. Para peneliti mengklaim organ itu berfungsi untuk membantu proses lubrikasi di area belakang hidung.
Adapun pemindaian yang dilakukan para peneliti dari the Netherlands Cancer Institute itu sendiri pada dasarnya menggunakan kombinasi metode 'computed tomography (CAT)' dan 'positron emission tomography (PET)'. Mereka menyuntikkan radioaktif pada pasien dan melacak jalur penyebarannya. Para peneliti selanjutnya terkejut ketika pelacak itu menyala di area baru.
"Tiap orang memiliki tiga set kelenjar ludah yang besar, tapi tidak di sana. Sejauh yang kami tahu, satu-satunya kelenjar ludah atau mukosa di nasofaring (salah satu bagian di tenggorokan) berukuran mikroskopis dan mencapai 1.000 tersebar merata di seluruh mukosa. Jadi, bayangkan betapa terkejutnya kami ketika menemukan ini," kata Pakar Radiasi Onkologi dalam penelitian ini, Wouter Vogel seperti dilansir dari Dailymail, Rabu, (28/10).
Kelenjar ludah tubarial panjangnya sekitar 1,5 inci (1,27 cm). Vogel menambahkan, bentuknya mirip dengan kelenjar ludah utama yang sudah dikenal sebelumnya. Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan melalui Radiotherapy and Oncology, mereka juga menyarankan agar area ini dihindari saat melakukan terapi radiasi.
Terapi radiasi biasanya dapat mengganggu kelenjar ludah utama, dimana seorang pasien akan mengalami kesulitan makan, menelan atau berbicara. Menurut Vogel, terapi radiasi juga akan menyebabkan efek samping yang sama pada kelenjar ludah tubarial.
Berangkat dari kurang lebih 700 kasus yang ditemui Vogel bersama seorang ahli bedah, Matthijs H Valstar, mereka mengungkapkan bahwa semakin banyak radiasi yang diterima kelenjar baru ini, maka akan semakin banyak komplikasi yang dihadapi pasien.
"Bagi pasien, secara teknis mungkin perlu untuk menghindari paparan radiasi ke lokasi yang baru ditemukan dari sistem kelenjar ludah ini. Dengan cara yang sama kami juga mencoba menyelamatkan kelenjar yang diketahui. Langkah kami selanjutnya adalah mencari cara terbaik untuk menyelamatkan kelenjar baru ini dan di pasien yang mana," kata Vogel. (M-4)
Menurut Alzheimer's Association, sekitar 5 hingga 10 persen kasus Alzheimer termasuk dalam kategori onset dini.
Studi terbaru ungkap stres kronis dapat merusak tulang dan picu osteoporosis melalui hormon stres serta gangguan sistem tubuh.
Simak 7 tips dari dr Mimi Oktafia (IPB University) untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar tampil maksimal saat UTBK-SNBT 2026.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Health Talk.
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Profesor dari Indiana University, Gabriel Filippelli, mengungkapkan bahwa terdapat bukti dengan menggunakan sepatu di dalam rumah dapat meningkatkan penyebaran kuman di rumah.
Pelayaran jarak jauh ini bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan ujian nyata bagi kesiapan teknis kapal KRI Canopus-936 dalam menghadapi berbagai kondisi laut internasional.
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved