Sabtu 29 Agustus 2020, 14:04 WIB

Mengenal Proses Paskaproduksi Film

Fathurrozak | Weekend
Mengenal Proses Paskaproduksi Film

Unsplash.com
Proses editing film

FILM maupun serial yang baru saja diproduksi, tidak selesai begitu saja setelah syuting. Ada proses panjang sebelum hasil akhir siap dinikmati penonton. Media Indonesia mengikuti penjabaran tim paskaproduksi Netflix Asia Pasifik untuk mengetahui apa saja proses pasca produksi film dan serial orisinal di Netflix.

Manajer pasca-produksi Netflix untuk wilayah Asia Tenggara Hwee Low menyebutkan memiliki lima tim di paskaproduksi. Terdiri dari tim manajemen pasca-produksi, manajemen aset, tim dubbing (audio), tim teknologi infrastruktur dan kreatif, dan yang mengurusi integrasi dan kemitraan pasca-produksi.

“Konten kami akan disesuaikan untuk 1600 perangkat lebih. Sebagai catatan, perbaiki saat pra, bukan ketika pasca karena akan lebih mahal,” pesan Hwee dalam lokakarya Mengembangkan Kapasitas Profesional Pascaproduksi Film Indonesia, Rabu, (26/8).

Spesifikasi Kamera Saat Produksi

Untuk itu, dalam standar yang diterapkan Netflix ke setiap produksi orisinal mereka, ada beberapa ketentuan yang perlu dipenuhi. Misalnya saja, spesifikasi kamera. Creative Technology Engineer Netflix Asia Pasifik Haruka Miyagawa menyebutkan, beberapa kamera yang menjadi spesifikasi untuk konten Netflix adalah merek ARRI, Blackmagic, Canon, Panasonic, Panavision, Red, dan Sony.

“Spesifikasi yang kami terapkan adalah untuk efisiensi saat proses post. Kami prefer hasil akhir pada resolusi di UHD 4K. Karena sekarang device konsumen juga sudah akselerasi untuk resolusi 4K. Lalu, apakah kalau produksi di Netflix bisa menggunakan kamera di luar itu? Misalnya speed, hidden cam, drone, crash cam? Boleh, asal proporsinya hanya 10% dari total durasi konten,” jelas Haruka.

Manajemen Data

Agar file gambar hasil syuting aman, Haruka membeberkan tips manajemen data dengan format 3:2:1. “Tentunya tidak ada yang ingin kehilangan gambar dan suara kan. Jadi aset media harus dipastikan, verifikasi data sangatlah penting,” tambah Haruka.

Setidaknya, simpan paling sedikit minimal tiga file asli, disimpan dalam dua bentuk media, dan buat paling sedikit satu cadangan lebih. Beberapa software yang bisa digunakan adalah Silverstack, Shoutout Pro, dan Yoyota. Haruka juga memberi catatan, file media yang ada di kamera tidak boleh dihapus terlebih dahulu sebelum proses pengendalian mutu (qc-quality control) konten selesai.

Manajemen Warna

Selain manajemen data, proses lainnya dalam pasca-produksi adalah manajemen warna (pipeline warna). Dalam manajemen warna, standar yang digunakan adalah ACES (Academy Color Encoding System). ACES merupakan sistem pengkodean gambar berwarna yang memungkinkan alur kerja dalam color grading dengan stabil. Keluarannya adalah dengan standarisasi Rec.709, yang ditujukan sebagai standar format televisi. Standarisasi itu juga dipakai Netflix, karena keluaran konten mereka diperuntukkan rilis dalam layar tv, bukan layar lebar di bioskop.

Audio

Berbicara pasca-produksi, yang juga paling krusial adalah audio. Senada dengan Hwee dan Haruka, spesialis teknologi suara Ozzie Sutherland menyebut cara terbaik untuk menghasilkan konten yang berkualitas baik adalah saat produksi. Tidak serta merta mengandalkan pada perbaikan pasca produksi. Perlu ada operator boom yang bekerja dengan baik. Standar audio yang diterapkan adalah 5.1 (dolby) dan 2.0 (stereo). Ozzie memberikan catatan, referensi volume yang sesuai untuk konten televisi seperti Netflix adalah berada pada ambang 79db-82db. Sementara, untuk film yang tayang di bioskop biasanya menggunakan ambang 85db. 

Pengendalian Mutu Tayangan

Proses akhir dalam paskproduksi yang tidak bisa ditinggalkan adalah kontrol kualitas (QC). Spesialis Aset Netflix Asia Pasifik Taketoshi Kumada (Kuma) menyebut, divisinya bertugas untuk mengontrol dan memeriksa kembali semua tayangan sebelum dirilis. “Kenapa harus ada QC dalam suatu tayangan? Ini mungkin terdengarnya menakutkan ya? Tapi misi kami adalah mempertahankan kualitas tertinggi. Sebagai future proof (jaminan awet). Yang paling menjadi perhatian juga adalah mengenai detil musik dan efek,” kata Kuma.

Dalam proses pengendalian mutu, ada 10 fokus utama. Untuk keluaran gambar, yang selalu menjadi perhatian adalah adanya kesalahan pixel, komposisi vfx (efek visual), terekamnya kru atau perlengkapan (bocor ke dalam frame), kesalahan framing, dan picture stutter (gambar yang terlihat seperti tersendat-sendat). Sementara untuk unsur audio, yang menjadi perhatian utama dari tim Kuma adalah seperti volume audio yang rendah, audio tick (contohnya seperti gangguan kebisingan dari mulut si aktor, langkah kaki, atau suara gerakan dari sebuah kertas), efek sinkronisasi (sync effect), konten yang tidak relevan (extraneous content), dan konten hilang (missing content). (M-1)

Baca Juga

AFP/DON EMMERT (STF)

Tutup Usia, Legenda CNN Larry King Terkenal Jarang Interupsi

👤Irana 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 22:30 WIB
Kariernya di media berawal sebagai disc jockey di sebuah stasiun radio di Miami,...
Instagram Museum MACAN

Tiga Jurus Museum Sintas Masa Pagebluk

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 21:51 WIB
Museum perlu mengintensifkan pemanfaatan teknologi digital di masa...
Gabriel BOUYS / AFP

Meski Pandemi, Dunia Seni di Spanyol tetap Menggeliat

👤Adiyanto 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 20:47 WIB
Dengan adanya pembatasan jam malam, kekhawatiran publik, dan tekanan ekonomi, banyak tempat kesenian berjuang untuk kelangsungan hidup...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya