Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
ALTRUISTIK atau dorongan naluriah untuk mengutamakan dan berbuat jasa kepada orang lain, ternyata tidak hanya dimiliki orang dewasa. Bayi yang kelaparan pun bahkan bersedia berbagi makanannya kepada orang asing yang membutuhkan. Hal tersebut membawa para psikolog menemukan bahwa 'semangat memberi' telah dimulai pada usia bayi yang relatif dini.
Penelitian oleh Institute of Learning & Brain Sciences, University-Washington (I-LABS) itu dilakukan terhadap sekitar 100 bayi berusia 19 bulan - masa ketika banyak bayi mulai memasuki periode tantrum. Para peniliti I-LABS mengeksplorasi apakah bayi mampu bertindak di luar kepentingan diri mereka sendiri ketika dihadapkan dengan salah satu kebutuhan biologis paling mendasar yakni makanan.
Dalam percobaan pertama, peneliti melibatkan 48 bayi yang berusia sekitar 19,5 bulan. Peneliti kemudian memulai percobaan dengan memperlihatkan setiap bayi sepotong buah kemudian dengan lembut melemparkannya ke atas nampan di luar jangkauannya, namun berada di dalam jangkauan bayi. Peneliti juga tidak menunjukkan ekspresi dan tidak berusaha mengambil buah tersebut.
Selanjutnya peneliti berusaha memancing respons bayi lewat menunjukkan keinginan untuk makan dengan berusaha menjangkau potongan buah yang jatuh tersebut. Hasilnya, lebih dari setengah bayi yang diuji mengambilkan buah dan mengembalikannya kepada peneliti. Sebaliknya, hanya 4 % dari bayi yang mengembalikan buah kepada peneliti ketika tidak menunjukkan tendensi menginginkan dan terlihat berupaya menjangkau buah itu.
Sementara dalam percobaan kedua dengan kelompok bayi berbeda namun dengan jumlah dan usia yang sama, para bayi dilibatkan tepat sebelum waktu makan rutin mereka. Hal tersebut dilakukan guna memastikan bayi berada dalam kondisi lapar dan membangkitkan motivasi lebih besar untuk mengambil potongan buah bagi dirinya sendiri. Namun hasilnya menunjukkan tidak jauh berbeda dengan percobaan pertama, yakni sebanyak 37% bayi menawarkan potongan buah kepada peneliti jika terlihat berupaya menjangkaunya.
"Bayi-bayi dalam penelitian kedua ini menatap penuh harap pada buah itu, dan kemudian mereka memberikannya! Kami pikir ini menunjukkan semacam bantuan altruistik versi bayi,” ujar salah satu peneliti, Andrew Meltzoff, seperti dikutip dailymail.co.uk.
Peneliti juga menemukan bahwa pengalaman sosial dapat membentuk altruisme pada diri seseorang, bahkan di awal kehidupan atau usia bayi. Misalnya, bayi yang memiliki saudara kandung atau dibesarkan dalam lingkungan yang memiliki latar belakang budaya menghargai saling ketergantungan dan keterhubungan satu sama lain.
“Jika kita dapat menemukan cara mempromosikan altruisme kepada anak-anak kita, hal ini dapat menggerakkan kita menuju masyarakat yang lebih peduli,” ujar psikolog Rodolfo Cortes Barragan dari University of Washington. (M-4)
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved