Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Air New Zealand Batalkan 1.100 Penerbangan Akibat Harga Avtur Melejit

Thalatie K Yani
12/3/2026 09:27
Air New Zealand Batalkan 1.100 Penerbangan Akibat Harga Avtur Melejit
Air New Zealand terpaksa batalkan 1.100 jadwal penerbangan menyusul lonjakan harga bahan bakar jet akibat konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.(Air New Zealand)

MASKAPAI nasional Air New Zealand mengumumkan pembatalan sekitar 1.100 jadwal penerbangan untuk dua bulan ke depan. Keputusan drastis ini diambil sebagai respons langsung terhadap gejolak di Timur Tengah yang memicu lonjakan tajam harga bahan bakar pesawat (jet fuel).

CEO Air New Zealand, Nikhil Ravishankar, menyatakan kebijakan ini mencakup sekitar 5% dari total jadwal penerbangan maskapai dan diperkirakan berdampak pada 44.000 penumpang. Meskipun mayoritas pembatalan terjadi pada rute domestik di Selandia Baru, beberapa rute internasional juga akan terdampak.

Lonjakan Harga Bahan Bakar

Pemicu utama penyesuaian jadwal ini adalah volatilitas harga minyak dunia. Konflik di Timur Tengah, yang diperparah dengan penutupan Selat Hormuz pasca-serangan Iran, telah mendorong harga minyak melonjak hingga di atas US$100 per barel pekan ini.

Ravishankar mengungkapkan bahwa harga bahan bakar jet yang biasanya berada di kisaran US$85 per barel, kini telah melambung hingga dua kali lipat.

"Dengan volatilitas harga bahan bakar jet yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat konflik di Timur Tengah, maskapai penerbangan di seluruh dunia menyesuaikan tarif dan jadwal mereka untuk membantu mengelola dampak dari peningkatan biaya yang signifikan ini," ujar Ravishankar.

Strategi Efisiensi

Langkah pembatalan ini menyusul kebijakan maskapai yang telah menaikkan harga tiket pada seluruh rute sejak Selasa lalu. Menurut manajemen, pengurangan frekuensi terbang merupakan upaya untuk menjaga efisiensi bahan bakar dan memastikan layanan tetap terjangkau bagi masyarakat di tengah krisis.

Meski demikian, rute antara Selandia Baru dan Amerika Serikat dipastikan tidak akan terpengaruh. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan penumpang yang mencari rute alternatif menuju Eropa guna menghindari zona konflik.

Situasi pasar energi global saat ini memang sedang dihantui ketidakpastian tinggi. Penutupan jalur distribusi utama di Selat Hormuz menjadi faktor krusial yang memaksa industri penerbangan global melakukan efisiensi besar-besaran demi menjaga keberlangsungan operasional mereka. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya