Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
GLETSER di berbagai belahan dunia kini menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Namun, alih-alih terlupakan seiring hilangnya es, bentang alam ini justru menarik kerumunan massa yang lebih besar dari sebelumnya. Wisatawan, fotografer, hingga aktivis berbondong-bondong mendatangi sisa-sisa es raksasa ini sebelum mereka benar-benar hilang dari muka bumi.
Sebuah studi terbaru yang melibatkan antropolog dari Rice University, Cymene Howe, membedah fenomena rumit ini. Penelitian tersebut menunjukkan gletser kini berfungsi ganda: sebagai destinasi "daftar keinginan" (bucket-list), penopang ekonomi, sekaligus simbol kuat dari duka akibat perubahan iklim.
Wisata gletser kini didorong oleh motivasi yang berbeda dari masa lalu. Perubahan iklim telah mengubah gletser menjadi semacam "jam hitung mundur" yang rapuh. Hal ini memicu apa yang disebut peneliti sebagai last-chance tourism, wisata kesempatan terakhir. Orang-orang rela menempuh perjalanan jauh ke lokasi terpencil karena percaya gletser tersebut tidak akan bertahan lama lagi.
Saat ini, gletser yang paling sering dikunjungi di dunia menarik lebih dari 14 juta turis setiap tahun. Angka ini sangat besar bagi lanskap yang sering kali sulit diakses dan berbahaya secara fisik.
"Hilangnya gletser secara global adalah alasan untuk berduka sekaligus merayakannya. Namun, hal itu juga menuntut kita untuk mengakui fakta bahwa perubahan iklim sedang membunuh gletser kita," ujar Howe.
Berdiri di depan gletser yang menipis sering kali menimbulkan apa yang disebut sebagai duka ekologis. Gletser terasa lebih "hidup" dibanding pegunungan biasa karena mereka bergerak, berderit, dan mengeluarkan suara.
Bagi komunitas lokal, hilangnya es bukan sekadar soal pemandangan. Gletser adalah jangkar identitas budaya dan ritme musiman yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Secara praktis, mencairnya es mengancam pasokan air minum, pertanian, hingga pembangkit listrik tenaga air.
Duka ini kini mulai diekspresikan secara publik. "Pada 2019, kami mengadakan pemakaman pertama untuk sebuah gletser," kata Howe. "Sekarang kami memiliki Daftar Korban Gletser Global yang menunjukkan bagaimana gletser di seluruh dunia terancam punah."
Ironisnya, pariwisata gletser sering kali menjadi bumerang. Upaya untuk mempermudah akses wisatawan, seperti penggunaan helikopter atau pembangunan infrastruktur besar, justru meningkatkan emisi karbon yang mempercepat pencairan es itu sendiri.
"Pariwisata gletser yang memfasilitasi akses ke lokasi megah ini sering kali menjadi bagian dari masalah ekonomi fosil yang justru mempercepat kematian gletser," jelas Howe.
Studi ini menekankan bahwa pariwisata gletser di masa depan tidak boleh hanya berfokus pada jumlah pengunjung. Kebijakan harus berpusat pada komunitas lokal dan keadilan lingkungan. Menyaksikan pencairan gletser memang penting, namun itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tindakan nyata untuk meredam laju pemanasan global. (Earth/Z-2)
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved