Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Air di Bumi Mungkin Bukan dari Tabrakan Meteor, ini Temuan Terbarunya

Abi Rama
02/2/2026 22:55
Air di Bumi Mungkin Bukan dari Tabrakan Meteor, ini Temuan Terbarunya
Ilustrasi(freepik)

SELAMA bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini bahwa air di Bumi berasal dari tabrakan asteroid atau meteorit yang membawa air maupun unsur pembentuknya. Namun, penelitian terbaru justru menantang teori populer tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal  Icarus  dan dilaporkan oleh Discover Magazine menunjukkan bahwa bahan pembentuk air kemungkinan sudah ada di Bumi sejak masa awal pembentukannya.

Kunci dari temuan ini terletak pada hidrogen yang merupakan unsur utama pembentuk air. Tanpa hidrogen, air tidak akan ada, dan tanpa air, kehidupan di Bumi mustahil berkembang. Karena itu, menelusuri asal-usul hidrogen diperlukan para peneliti untuk memahami bagaimana kehidupan pertama kali eksis di planet ini.

Meneliti Hidrogen Lewat Meteorit Langka

Menariknya, para peneliti justru menggunakan meteorit untuk membuktikan bahwa air Bumi mungkin tidak berasal dari luar angkasa. Tim dari Universitas Oxford meneliti jenis meteorit langka bernama enstatite chondrite, yang komposisinya diyakini sangat mirip dengan material penyusun Bumi sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Dari penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa meteorit ini mengandung hidrogen dalam jumlah signifikan. Temuan ini memunculkan kesimpulan penting, yaitu jika material yang menyerupai Bumi purba sudah kaya akan hidrogen, maka planet Bumi kemungkinan besar juga memiliki hidrogen sejak awal terbentuk, jauh sebelum adanya hujan asteroid.

Bukan Akibat Kontaminasi Bumi

Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi. Untuk itu, tim meneliti meteorit bernama LAR 12252 yang ditemukan di Antarktika menggunakan sinar-X berenergi tinggi dari alat raksasa bernama sinkrotron.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hidrogen sulfida justru ditemukan “terkurung" di dalam struktur kristal meteorit, bukan di bagian retakan atau area berkarat yang biasanya menjadi tanda kontaminasi. Area yang terkontaminasi justru hampir tidak mengandung hidrogen sama sekali.

“Kami sangat antusias ketika analisis menunjukkan adanya hidrogen sulfida, meski tidak berada di lokasi yang kami perkirakan,” ujar Tom Barrett, mahasiswa pascasarjana Universitas Oxford sekaligus penulis studi tersebut. Menurutnya, kecil kemungkinan hidrogen tersebut berasal dari kontaminasi Bumi, sehingga memperkuat dugaan bahwa unsur itu memang sudah ada sejak awal.

Karena Bumi purba diyakini terbentuk dari material serupa enstatite chondrite, para peneliti berpendapat bahwa planet ini telah menyimpan cukup banyak hidrogen bahkan sebelum mengalami tabrakan dengan asteroid. Artinya, air di Bumi bisa jadi merupakan hasil alami dari komposisi internal planet, bukan akibat kiriman dari meteor luar angkasa.

“Kami kini percaya bahwa material pembentuk Bumi jauh lebih kaya hidrogen dibandingkan yang selama ini diperkirakan,” kata James Bryson, profesor Universitas Oxford dan salah satu penulis studi. 

Temuan ini mendukung gagasan bahwa pembentukan air di Bumi merupakan proses alami, bukan kebetulan akibat hantaman asteroid yang membawa air setelah planet ini terbentuk.

Sumber: Discover Magazine.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya