Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, kita menganggap lautan adalah tempat penyimpanan air dan hidrogen terbesar di planet ini. Namun, sebuah terobosan ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada Februari 2026 mengungkap fakta mengejutkan: cadangan hidrogen terbesar justru terkunci rapat jauh di dalam inti besi Bumi.
Penelitian yang dipimpin oleh ahli geologi Dongyang Huang dari Universitas Peking menunjukkan bahwa inti Bumi berpotensi menyimpan hidrogen dalam jumlah yang sangat masif, yakni antara 9 hingga 45 kali lipat lebih banyak dibandingkan total hidrogen yang ada di seluruh lautan dunia. Temuan ini tidak hanya mengubah peta geologi kita, tetapi juga menjawab teka-teki lama tentang asal-usul air di planet ini.
Mengingat inti Bumi berada ribuan kilometer di bawah kaki kita dan mustahil dijangkau secara fisik, tim peneliti menggunakan simulasi laboratorium yang canggih. Menggunakan alat sel landasan berlian (diamond anvil cell), mereka mereplikasi tekanan dan suhu ekstrem yang setara dengan kondisi di pusat planet.
Para peneliti menekan sampel besi yang terbungkus kaca silikat terhidrasi hingga tekanan 111 gigapascal dan memanaskannya hingga suhu 5.100 Kelvin. Dalam kondisi yang sangat panas dan tertekan ini, sampel mencair sepenuhnya, memungkinkan unsur-unsur seperti hidrogen, oksigen, dan silikon untuk bercampur. Hasilnya membuktikan bahwa hidrogen sangat mudah larut ke dalam besi cair, sebuah proses yang diduga kuat terjadi saat Bumi pertama kali terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Berdasarkan data bahwa inti Bumi mengandung sekitar 2 hingga 10 persen silikon, tim Dongyang Huang menghitung bahwa 0,07 hingga 0,36 persen massa inti Bumi kemungkinan besar adalah hidrogen. Temuan ini memberikan penjelasan baru bagi fenomena "defisit densitas" pada inti Bumi, di mana inti besi Bumi ternyata tidak sepadat yang diperkirakan jika hanya terdiri dari besi murni.
Temuan ini memberikan perspektif baru bagi teori lama yang menyebutkan bahwa sebagian besar air di Bumi dibawa oleh komet yang menabrak planet. Sebaliknya, studi ini menunjukkan bahwa hidrogen sudah ada sejak tahap awal pembentukan Bumi (akresi) dan terserap ke dalam inti besi yang sedang tumbuh. Jika hidrogen dan oksigen dapat bergerak keluar-masuk inti dalam skala waktu geologi, maka siklus air Bumi jauh lebih dalam dan kompleks daripada yang kita bayangkan.
Dampak dari penelitian ini meluas hingga ke luar angkasa. Jika proses penyimpanan hidrogen di dalam inti adalah fenomena umum, maka planet-planet berbatu lainnya—seperti Mars atau eksoplanet jauh—yang tampak kering di permukaan mungkin sebenarnya menyimpan cadangan air yang luas jauh di bawah permukaannya.
Meskipun cadangan hidrogen di inti Bumi tidak akan pernah bisa kita tambang untuk kebutuhan energi, memahami keberadaannya sangat krusial. Hidrogen di inti Bumi berperan penting dalam memengaruhi aliran panas menuju mantel dan pembentukan medan magnet Bumi yang melindungi kita dari radiasi luar angkasa.
Hidrogen memiliki sifat siderophile (suka besi) pada tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Saat Bumi masih berupa lautan magma cair, hidrogen berikatan dengan besi dan tenggelam ke pusat planet membentuk inti.
Sayangnya tidak. Hidrogen ini terkunci di kedalaman hampir 3.000 kilometer di bawah permukaan dengan tekanan jutaan kali atmosfer Bumi, sehingga secara teknis mustahil untuk diekstraksi dengan teknologi saat ini.
Studi ini menunjukkan bahwa air di permukaan Bumi mungkin hanyalah "sisa" dari proses pembentukan planet, sementara sebagian besar bahan baku air (hidrogen) justru tersimpan di bagian terdalam sejak awal penciptaan Bumi.
(Science Alert/H-3)
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Bahan bakar kendaraan seperti bensin adalah sumber yang tidak dapat diperbaharui dan jumlahnya semakin berkurang. Oleh karena itu, diperlukan inovasi untuk menemukan pengganti
HONDA akan menampilkan kendaraan listrik bertenaga hidrogen Honda CRV e:FCEV dalam ajang balap ikonik Broadmoor Pikes Peak International Hill Climb 2025 di Amerika Serikat.
Studi terbaru oleh ilmuwan dari Universitas Oxford mengungkap Bumi purba kemungkinan mengandung lebih banyak hidrogen.
Kerja sama ini diharapkan dapat mendukung penyediaan data yang dapat digunakan sebagai referensi dalam penyusunan regulasi dan pedoman teknis terkait hidrogen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved