Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
Pernahkah Anda membayangkan rintangan yang dihadapi sebuah wahana antariksa saat kembali ke Bumi? Perjalanan ini mustahil berjalan mulus. Saat memasuki atmosfer atau fase re-entry, wahana harus menerjang suhu ekstrem, tekanan tinggi, dan gaya gesek luar biasa yang biasanya menyebabkan wahana terbakar, pecah, hingga hancur.
Fenomena inilah yang mendasari Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk mengembangkan Draco, sebuah misi eksperimental unik. Draco dirancang khusus untuk hancur di atmosfer demi mengumpulkan data ilmiah krusial mengenai keselamatan dan dampak lingkungan dari aktivitas antariksa.
Saat menghantam lapisan udara yang padat dengan kecepatan tinggi, wahana antariksa akan mengalami panas ekstrem hingga ribuan derajat Celsius. Suhu ini memicu proses ablasi, di mana material penyusun wahana mengelupas dan menguap.
Dalam fase kritis ini, struktur wahana akan retak dan terfragmentasi. Meski sebagian besar komponen hancur menjadi debu, beberapa bagian yang lebih tahan panas berpotensi bertahan hingga mencapai permukaan Bumi.
Namun, kehancuran fisik bukan satu-satunya masalah. Para ahli memperingatkan bahwa proses re-entry melepaskan partikel halus hasil ablasi langsung ke atmosfer atas. Pelepasan material ini dikhawatirkan berpotensi merusak lapisan ozon, yang nantinya dapat berpengaruh pada iklim di Bumi.
Profesor Aaron Boley dari University of British Columbia menjelaskan bahwa re-entry wahana membawa tantangan besar bagi keberlanjutan aktivitas antariksa. Jika terjadi tanpa kendali, serpihan tersebut dapat membahayakan manusia di darat maupun pesawat yang sedang terbang.
Secara logistik, fase ini kerap memaksa otoritas penerbangan untuk menutup sementara wilayah udara tertentu. Penutupan mendadak ini dapat mengganggu lalu lintas penerbangan sipil secara signifikan.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah pencemaran atmosfer. Produk ablasi yang dilepaskan wahana saat terbakar akan mengendap di lapisan atmosfer atas. Boley menilai, strategi merancang wahana agar hancur sepenuhnya—meski bertujuan mengurangi risiko korban di darat—justru berisiko memperbesar potensi pencemaran udara.
Ia juga menyoroti bahwa model ilmiah yang digunakan saat ini masih belum sepenuhnya terverifikasi karena keterbatasan uji laboratorium. Oleh sebab itu, data langsung dari kejadian nyata sangat dibutuhkan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, misi Draco akan menjadi saksi mata teknis. Wahana ini dilengkapi sekitar 200 sensor dan empat kamera yang memantau suhu, tekanan, serta regangan struktur saat proses re-entry berlangsung.
Draco akan menyimpan data tersebut, lalu mulai mentransmisikannya ke satelit geostasioner setelah parasut terbuka. ESA memperkirakan hanya tersedia waktu sekitar 20 menit untuk mengirimkan data sebelum wahana mendarat di laut dan mengakhiri tugasnya. Jika berhasil, misi ini akan memberikan gambaran nyata tentang bagaimana wahana antariksa terbakar dan menyebarkan materialnya di atmosfer. Sumber: Space.com
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Keputusan MSCI membekukan rebalancing indeks Indonesia memicu panic selling. Saham BUMI, BRMS, ENRG anjlok hingga ARB. Cek data lengkapnya.
MSCI berlakukan 'Interim Freeze' untuk saham Indonesia pada rebalancing Februari 2026. PANI & BUMI batal masuk indeks, IHSG terancam turun ke Frontier Market.
BUKTI bahwa Planet Mars pernah memiliki air dalam jumlah besar terus bertambah. Mulai dari delta sungai, mineral hingga struktur permukaan yang menyerupai bentang alam di Bumi
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved