Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, kimberlit dikenal sebagai fenomena geologi unik yang menjadi jalur utama terbawanya berlian dari kedalaman Bumi ke permukaan.
Namun, bagaimana pipa vulkanik ini dapat terbentuk dan meletus secara cepat tanpa menghancurkan berlian di dalamnya lama menjadi misteri. Kini, para ilmuwan geologi mulai menemukan jawaban yang lebih jelas melalui riset eksperimental dan pemodelan fisika batuan.
Kimberlit merupakan jenis batuan beku ultrabasa yang berasal dari kedalaman lebih dari 150 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di bagian mantel.
Di kedalaman tersebut, tekanan dan suhu ekstrem memungkinkan karbon mengkristal menjadi berlian.
Tantangan ilmiah terbesar adalah menjelaskan bagaimana berlian dapat terangkut ke permukaan dalam waktu sangat singkat tanpa berubah menjadi grafit, bentuk karbon yang lebih stabil di permukaan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kunci utama terletak pada kandungan gas volatil, terutama karbon dioksida dan air, yang sangat tinggi di dalam magma kimberlit.
Gas-gas ini menciptakan tekanan luar biasa yang mendorong magma naik dengan kecepatan ekstrem, diperkirakan mencapai puluhan kilometer per jam. Proses ini menyerupai letusan eksplosif, tetapi terjadi di dalam kerak Bumi sebelum akhirnya membentuk pipa vertikal yang khas.
Selain itu, struktur kerak benua purba berperan penting dalam pembentukan kimberlit. Studi geologi menunjukkan bahwa pipa kimberlit hampir selalu ditemukan di wilayah kraton, yakni bagian kerak Bumi yang sangat tua dan stabil.
Retakan mikro dan zona lemah pada kraton memungkinkan magma kimberlit menembus lapisan batuan secara langsung, menciptakan jalur sempit dan efisien menuju permukaan.
Eksperimen laboratorium dan simulasi numerik juga mengungkap bahwa magma kimberlit memiliki viskositas relatif rendah saat kaya gas.
Kondisi ini mempercepat aliran ke atas dan meminimalkan waktu paparan berlian terhadap suhu tinggi. Dengan kata lain, berlian “diselamatkan” oleh kecepatan transportasi yang luar biasa cepat.
Terobosan pemahaman ini tidak hanya penting bagi ilmu kebumian, tetapi juga berdampak besar pada eksplorasi sumber daya mineral. Dengan mengetahui kondisi geologi dan dinamika mantel yang memicu terbentuknya kimberlit, para ahli dapat mempersempit wilayah pencarian berlian secara lebih presisi.
Penelitian tentang kimberlit kini dipandang sebagai jendela untuk memahami proses terdalam Bumi. Selain menjelaskan asal-usul berlian, studi ini juga membuka wawasan baru tentang dinamika mantel, evolusi kerak benua, dan mekanisme letusan vulkanik ekstrem yang jarang terjadi, tetapi sangat berpengaruh dalam sejarah planet. (Badan Geologi ESDM; FT Geologi ITB;US Geological Survey (USGS); Geological Society of America (GSA)/Z-1)
Peneliti menggunakan perangkat lunak dinamika molekuler untuk mensimulasikan gaya atom dan melacak bagaimana atom dalam lelehan kimberlit bergerak pada kedalaman yang berbeda.
Peneliti menemukan bahwa batu permata yang memiliki nilai jauh lebih rendah bisa memberikan petunjuk penting untuk mengetahui apakah ada kemungkinan berlian
Ketika Merkurius masih sangat panas dan berada dalam tekanan tinggi. Saat itu, diperkirakan Merkurius memiliki lapisan grafit yang mengapung di atas lautan magma
55 Cancri e, planet super-Bumi yang terletak 40 tahun cahaya dari Bumi, memiliki suhu permukaan hampir 2.700°C dan dugaan kandungan berlian.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kemungkinan adanya lapisan berlian padat di bawah permukaan Merkurius, planet terdekat dengan Matahari.
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Keputusan MSCI membekukan rebalancing indeks Indonesia memicu panic selling. Saham BUMI, BRMS, ENRG anjlok hingga ARB. Cek data lengkapnya.
MSCI berlakukan 'Interim Freeze' untuk saham Indonesia pada rebalancing Februari 2026. PANI & BUMI batal masuk indeks, IHSG terancam turun ke Frontier Market.
BUKTI bahwa Planet Mars pernah memiliki air dalam jumlah besar terus bertambah. Mulai dari delta sungai, mineral hingga struktur permukaan yang menyerupai bentang alam di Bumi
Namun, para ahli menegaskan bahwa gerhana adalah peristiwa posisi benda langit yang rutin dan dapat diprediksi secara akurat.
Fenomena lithospheric dripping ini juga memperlihatkan suatu hubungan menarik antara pengangkatan dataran tinggi dan penurunan cekungan di area yang sama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved