Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH studi terbaru membuka tabir misteri di balik planet Merkurius, tetangga terdekat Matahari. Para ilmuwan kini menduga kuat bahwa di bawah permukaannya yang ekstrem, tersembunyi sebuah lapisan berlian padat yang luar biasa tebal, diperkirakan mencapai sekitar 9 mil atau 14 kilometer. Penemuan yang mengejutkan ini berpotensi mengubah pemahaman kita tentang komposisi internal Merkurius dan asal-usul medan magnetnya yang unik.
Para peneliti menyatakan berlian-berlian ini kemungkinan besar terbentuk dari karbon yang mengalami kristalisasi akibat tekanan dan suhu ekstrem yang terjadi di perbatasan antara inti logam cair dan mantel berbatu Merkurius. Kondisi fisik yang luar biasa ini memicu transformasi atom karbon menjadi struktur kristal yang keras dan berkilauan.
"Lapisan berlian ini, jika memang ada, akan menjadi fitur yang sangat signifikan dari mantel Merkurius," ujar Kevin Righter, seorang kurator meteorit di Johnson Space Center NASA di Houston, yang tidak terlibat dalam penelitian. Pendapat ahli ini semakin memperkuat spekulasi mengenai keberadaan lapisan intan tersebut.
Meskipun potensi kekayaan berlian ini sangat fantastis, para ilmuwan sepakat bahwa untuk saat ini, menambang "harta karun" di Merkurius adalah sebuah angan-angan belaka. Jarak planet yang sangat jauh, suhu permukaan yang mencapai ratusan derajat Celcius, serta tantangan teknis lainnya menjadikan misi penambangan berlian sebagai hal yang mustahil dengan teknologi yang kita miliki saat ini.
Namun demikian, keberadaan lapisan berlian ini diyakini memiliki implikasi penting terhadap salah satu misteri terbesar Merkurius: medan magnet globalnya yang relatif lemah. Para ilmuwan berspekulasi bahwa interaksi antara lapisan berlian dan inti logam cair di bawahnya dapat berkontribusi pada generasi medan magnet planet tersebut.
Misi antariksa BepiColombo, yang merupakan hasil kolaborasi antara Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA), saat ini sedang dalam perjalanan menuju planet Merkurius. Diharapkan, misi ini akan tiba di orbit planet tersebut pada tahun 2025 dan akan mengumpulkan data yang lebih detail tentang struktur internal Merkurius, termasuk kemungkinan keberadaan lapisan berlian ini.
Data yang dikumpulkan oleh BepiColombo akan sangat berharga dalam mengkonfirmasi atau menyangkal keberadaan lapisan berlian yang dihipotesiskan. Informasi ini juga akan membantu para ilmuwan untuk menyusun gambaran yang lebih lengkap tentang evolusi planet berbatu di tata surya kita dan kondisi-kondisi ekstrem yang terjadi di dalamnya.
Dengan demikian, meskipun kita mungkin tidak akan pernah memiliki berlian dari Merkurius, penemuan potensial ini membuka jendela baru untuk memahami planet yang penuh kejutan ini dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengetahuan kita tentang pembentukan dan evolusi planet-planet di alam semesta. (Livescience/Z-2)
Kimberlit merupakan jenis batuan beku ultrabasa yang berasal dari kedalaman lebih dari 150 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di bagian mantel.
Peneliti menggunakan perangkat lunak dinamika molekuler untuk mensimulasikan gaya atom dan melacak bagaimana atom dalam lelehan kimberlit bergerak pada kedalaman yang berbeda.
Peneliti menemukan bahwa batu permata yang memiliki nilai jauh lebih rendah bisa memberikan petunjuk penting untuk mengetahui apakah ada kemungkinan berlian
Ketika Merkurius masih sangat panas dan berada dalam tekanan tinggi. Saat itu, diperkirakan Merkurius memiliki lapisan grafit yang mengapung di atas lautan magma
55 Cancri e, planet super-Bumi yang terletak 40 tahun cahaya dari Bumi, memiliki suhu permukaan hampir 2.700°C dan dugaan kandungan berlian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved